Burnout di Usia 20-an, Normal atau Tanda Bahaya?

  • 22 Apr 2026 14:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Penggunaan media sosial yang berlebihan di era digital meningkatkan risiko burnout, terutama pada usia muda.
  • Burnout adalah kondisi kelelahan emosional, fisik, dan mental akibat stres berkepanjangan.
  • Mahasiswa kini rentan mengalami burnout bahkan sebelum masuk dunia kerja profesional.

RRI.CO.ID, Jakarta - Di era digital sekarang, banyak waktu dihabiskan untuk menjelajah media sosial, demi hiburan, informasi, serta mengikuti kabar terbaru. Burnout merupakan keadaan kelelahan emosional, fisik, serta mental akibat tekanan stres berlebih yang berlangsung menerus dalam jangka panjang.

Di usia muda, banyak orang berpikir bahwa energi masih penuh dan semangat masih tinggi. Namun realitanya, semakin banyak mahasiswa mengalami burnout bahkan sebelum mereka benar-benar memasuki dan menghadapi dunia kerja profesional.

Berikut Tanda dan Dampak Seseorang mengalami Burnout, mengutip dari berbagai sumber:

1. Kehilangan Motivasi

Hal yang dulu terasa menyenangkan kini menjadi hambar karena terlalu sering menggunakan media sosial. Kebiasaan tersebut membuat sulit berhenti dan perlahan mengurangi motivasi dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

2. Mudah Lelah

Kualitas tidur menurun karena terlalu lama menatap layar gadget. Akibatnya, tubuh tetap terasa lelah meskipun sudah beristirahat.

3. Sulit Fokus

Sering mengecek media sosial membuat tugas dan pekerjaan terabaikan. Akibatnya, fokus menurun dan penyelesaian pekerjaan menjadi lebih lama.

4. Emosi Tidak Stabil

Rasa cemas muncul saat tidak dapat mengakses media sosial. Kurangnya interaksi juga memicu frustrasi sehingga emosi menjadi tidak stabil.

5. Menarik Diri Dari Lingkungan

Ketergantungan pada media sosial membuat seseorang cenderung memilih sendiri. Perlahan, hal ini menyebabkan menghindari interaksi sosial di kehidupan nyata.

Dampak Burnout Jika dibiarkan:

1. Penurunan prestasi akademik menjadi salah satu dampak nyata dari kebiasaan scrolling berlebihan. Konsentrasi menurun karena otak terbiasa menerima rangsangan cepat, sehingga sulit fokus pada tugas yang membutuhkan perhatian lebih lama.

2. Gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi juga dapat muncul. Paparan informasi yang terus-menerus tanpa kedalaman bisa mengganggu keseimbangan emosi dan memicu stres berlebih.

3. Kehilangan arah dan tujuan hidup terjadi ketika seseorang terlalu bergantung pada kepuasan instan dari media sosial. Hal ini membuat motivasi untuk mengejar tujuan yang lebih besar menjadi menurun.

4. Menurunnya kepercayaan diri sering kali dipengaruhi oleh perbandingan sosial di media digital. Selain itu, meskipun terlihat terhubung, kebiasaan ini justru dapat menyebabkan keterputusan sosial dan rasa terisolasi.

Jika merasa sulit berhenti menggunakan media sosial meski sudah mencoba mengurangi waktu online. Segera konsultasi dengan psikolog atau psikiater bila mulai muncul dampak serius pada kesehatan mental. (Agnes Claudia Ohoira/Intern)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....