‘Sungkeman’ Gen Z dan Era Digital
- 14 Mar 2026 21:31 WIB
- Pusat Pemberitaan
DI era digital, ritual sungkeman bagi generasi Z di Indonesia, disadari atau tidak, bukan lagi sekadar formalitas sujud yang kaku. Tradisi ini perlahan bertransformasi menjadi momen validasi emosional sekaligus rekonsiliasi dengan orang tua.
Meski dikenal sebagai generasi digital native yang cenderung egaliter, Gen Z tetap memandang sungkeman sebagai jangkar kultural yang penting untuk menjaga hubungan dengan orang tua di tengah derasnya arus individualisme global.
Secara perilaku, terjadi pergeseran makna dari kepatuhan yang bersifat hierarkis menuju ekspresi kerentanan. Bagi Gen Z, sungkeman menjadi ruang untuk menanggalkan ego dan mengakui kesalahan secara langsung.
Hal ini sering kali sulit dilakukan dalam keseharian. Itu karena adanya kesenjangan generasi atau generational gap.
Dalam konteks tersebut, sungkeman berfungsi layaknya “tombol reset” hubungan yang mungkin sempat renggang atau tegang akibat perbedaan pandangan hidup maupun gaya hidup digital.
Perkembangan teknologi juga melahirkan fenomena yang bisa disebut sebagai “sungkeman hibrida”. Dokumentasi momen sungkeman di media sosial tidak semata-mata untuk pamer, tetapi menjadi cara Gen Z mengontekstualisasikan tradisi lama ke dalam identitas modern mereka.
Sementara bagi mereka yang merantau atau tidak dapat pulang, video call sering menjadi alternatif untuk tetap menjalankan tradisi tersebut tanpa mengurangi esensi permintaan maaf dan penghormatan kepada orang tua.
Dengan demikian, keberlangsungan tradisi sungkeman di tangan Gen Z justru menunjukkan sifat adaptif budaya. Tradisi ini tidak lagi dipandang sebagai beban budaya kuno, melainkan sebagai bentuk perlawanan terhadap alienasi digital.
Di tengah dunia yang semakin serba virtual, kontak fisik dan permintaan maaf yang tulus tetap menjadi kebutuhan fundamental dalam struktur kekeluargaan masyarakat Indonesia.

Penulis: Aries Widojoko (Praktisi Penyiaran)