Kasus Campak Menurun, Kemenkes Ingatkan Anak Bergejala Tidak Sekolah

  • 11 Apr 2026 11:36 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta orang tua untuk tidak mengizinkan anak yang mengalami gejala campak tetap bersekolah
  • Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa campak merupakan salah satu penyakit paling menular di dunia

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta orang tua untuk tidak mengizinkan anak yang mengalami gejala campak tetap bersekolah. Langkah ini dilakukan untuk mencegah penularan campak yang cepat di lingkungan sekitar.

“Campak sangat mudah menular. Satu anak yang terinfeksi bisa menularkan kepada 12 sampai 18 orang di sekitarnya,” kata PLT Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu, 11 April 2026.

Ia menjelaskan penularan campak terjadi melalui percikan air liur atau droplet saat penderita batuk, bersin, atau berbicara yang kemudian terhirup oleh orang lain. Selain itu, penularan juga dapat terjadi ketika seseorang menyentuh benda yang telah terkontaminasi droplet kemudian menyentuh area wajah.

“Jika ada gejala demam, batuk, pilek, sebaiknya tidak perlu ke sekolah. Pastikan sudah sembuh baru kembali mengikuti proses belajar mengajar,” ucap Andi.

Andi menjelaskan gelaja awal campak dikenal sebagai 3C, yakni batuk kering, pilek, dan mata merah sebelum ruam muncul. Ia meminta para guru untuk memantau para siswa jika ditemukan murid positif campak di lingkungan sekolah.

“Jika ada murid dengan gejala yang mengarah ke campak, sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk didiagnosis dan diobati. Tidak perlu sekolah dulu,” ucap Andi.

Andi mengingatkan penderita campak sebaiknya menjalani perawatan di rumah hingga benar-benar pulih sebelum kembali beraktivitas. Langkah ini penting untuk mencegah penularan campak kepada orang lain di lingkungan sekitar.

“Yang penting memastikan yang terkena campak di rumah saja. Nanti saat sembuh baru kembali ke sekolah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Andi menambahkan, meski mayoritas kasus campak terjadi pada anak-anak, orang dewasa juga dapat terinfeksi penyakit tersebut. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 8 persen dari total kasus campak terjadi pada kelompok usia di atas 18 tahun.

“Gejala pada orang dewasa umumnya tidak jauh berbeda dengan anak-anak seperti demam, ruam, batuk, dan pilek. Namun pada beberapa kasus bisa lebih berat,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa campak merupakan salah satu penyakit paling menular di dunia. Menurutnya, tingkat penularan campak jauh lebih tinggi dibandingkan penyakit menular lainnya, termasuk COVID-19.

“Campak itu adalah penyakit yang paling menular. Kalau dulu COVID-19 satu orang menulari dua atau tiga orang, campak satu orang bisa menulari hingga 18 orang,” kata Menkes Budi.

Meski demikian, ia menegaskan penyakit tersebut sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi yang efektif. Menkes mengingatkan bahwa campak bukan hanya menyebabkan demam dan ruam, tetapi juga dapat berujung pada komplikasi serius bahkan kematian.

“Untungnya sekarang sudah ada vaksinnya dan vaksinnya efektif. Jadi kalau divaksinasi, seharusnya tidak akan terkena penyakit campak lagi,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....