Sudah Berapa Parah Kasus Campak di Indonesia? Intip Data Kemenkes hingga Maret 2026
- 24 Mar 2026 12:42 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kemenkes RI mengungkapkan, kasus campak di Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan hingga pertengahan Maret 2026
- Simak rincian data resmi Kemenkes terkait kasus campak hingga Maret 2026 yang tersebar di 13 provinsi
- Kemenkes mencatat, 54 kejadian luar biasa (KLB) campak terjadi di berbagai daerah
- laporan per 23 Februari Kemenkes mencatat, 8.224 suspek campak dan empat kematian
RRI.CO.ID, Jakarta - Isu kasus campak di Indonesia sampai detik ini terus menjadi buah bibir di masyarakat. Terlebih, Kemenkes RI mengungkapkan, kasus campak di Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan hingga pertengahan Maret 2026.
Simak rincian data resmi Kemenkes terkait kasus campak hingga Maret 2026 yang tersebar di 13 provinsi. Kondisi ini memicu kewaspadaan terhadap potensi penyebaran yang lebih luas.
Melansir laporan resmi @KemenkesRI, Kemenkes mencatat, 54 kejadian luar biasa (KLB) campak terjadi di berbagai daerah. Kasus tersebut tersebar di 37 kabupaten dan kota di 13 provinsi.
Peningkatan kasus campak di Indonesia ini, terjadi sejak awal tahun 2026. Bahkan, laporan per 23 Februari Kemenkes mencatat, 8.224 suspek campak dan empat kematian.
Dalam periode yang sama, terdapat 21 KLB suspek campak yang dilaporkan. Kasus ini tersebar di 17 kabupaten dan kota dari 11 provinsi.
Sebanyak 13 KLB di enam provinsi telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. Hal ini menunjukkan penyebaran campak yang perlu diwaspadai secara serius.
Provinsi dengan kasus KLB tertinggi meliputi Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. Selain itu, DI Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah juga mencatat angka tinggi.
Gejala awal campak biasanya diawali dengan demam tinggi pada penderita. Kondisi ini disertai batuk, pilek, dan radang mata.
Tiga gejala tersebut dikenal sebagai istilah 3C dalam dunia medis. Gejala ini sering muncul sebelum ruam merah terlihat di kulit.
Jika tidak ditangani, campak dapat menyebabkan komplikasi serius pada pasien. Risiko tertinggi terjadi pada anak dengan daya tahan tubuh lemah.
Komplikasi yang mungkin terjadi meliputi pneumonia dan radang otak atau ensefalitis. Gangguan penglihatan juga dapat terjadi dalam kondisi tertentu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....