Menkes Soroti Peningkatan Gangguan Kesehatan Jiwa Anak Indonesia
- 09 Mar 2026 16:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyoroti adanya peningkatan pada kasus gangguan kesehatan jiwa pada anak dan remaja di Indonesia. Bahkan, data terbaru menunjukkan kenaikan tajam pada jumlah anak yang memiliki pikiran hingga percobaan mengakhiri hidup.
“Yang surprising ke kita adalah angkanya naik tinggi dan yang berpikir untuk bunuh diri itu naik dari 5,4 persen ke 8,5 persen. Jadi naik sekitar 1,6 persen,” kata Budi Gunadi Sadikin saat konferensi pers di kantor Kemenkes, Jakarta, Senin, 9 Maret 2026.
Ia menjelaskan, kenaikan juga terlihat pada jumlah anak yang mencoba melakukan bunuh diri. Berdasarkan data yang dihimpun, angka percobaan bunuh diri meningkat dari 3,9 persen menjadi 10,7 persen.
“Data Global School-Based Student Health Survey menunjukkan peningkatan signifikan anak yang berpikir hingga mencoba bunuh diri dalam beberapa tahun terakhir. Hasil skrining nasional juga menemukan sekitar lima persen anak mengalami gangguan kecemasan dan depresi yang perlu perhatian serius,” ucap Menkes Budi.
Selain itu, Kemenkes menggabungkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan layanan konseling untuk memantau kasus bunuh diri pada anak. Berdasarkan data tersebut, tercatat 115 anak meninggal akibat bunuh diri dalam periode 2023 hingga 2025.
“Penyebabnya yang nomor satu ternyata bukan dari psikologi anaknya, tapi dari keluarganya. Kalau keluarganya konflik atau ada masalah pola pengasuhan, itu menjadi penyebab yang paling tinggi,” kata Budi.
Sementara, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan Maria Endang Sumiwi menyatakan pemerintah memasukkan psikolog klinis dalam standar tenaga kesehatan puskesmas. Langkah ini dilakukan guna memperkuat layanan kesehatan mental serta memperluas akses pendampingan psikologis bagi masyarakat.
“Saat ini psikolog klinis di puskesmas masih sekitar 203 orang dan kebanyakan berada di DKI, Yogyakarta, dan Surabaya. Karena itu kami masukkan dalam Permenkes tentang puskesmas tahun 2024 supaya daerah yang mampu bisa segera melengkapi,” kata Endang.
Selain menambah tenaga psikolog, pemerintah juga mempercepat pendidikan psikolog klinis bekerja sama dengan sejumlah universitas. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat ketersediaan tenaga kesehatan mental di puskesmas.
“Kita (Kemenkes) juga menjalin kerja sama dengan Kementerian Pendidikan untuk memperkuat deteksi dini di sekolah melalui guru bimbingan konseling (BK). Kerja sama ini akan diatur melalui SKB agar tenaga kesehatan, guru BK, dan orang tua menangani kesehatan mental anak bersama,” ucap Endang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....