Wamenkes Soroti Tingginya Risiko Gangguan Jiwa Anak dan Remaja

  • 04 Sep 2026 21:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengidentifikasi tingginya risiko gangguan kesehatan jiwa pada populasi anak dan remaja Indonesia.
  • Gejala depresi dan kecemasan harus dikenali sejak dini untuk mencegah berkembangnya menjadi masalah kesehatan jiwa yang lebih kompleks dan sulit ditangani.
  • Pengenalan dini terhadap gangguan kesehatan jiwa merupakan kunci utama dalam penanganan efektif, bukan hanya keberadaan gangguan itu sendiri.

RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyoroti tingginya risiko gangguan kesehatan jiwa pada anak dan remaja. Ia mengatakan gejala depresi dan kecemasan perlu dikenali sejak dini agar tidak berkembang menjadi persoalan lebih serius.

“Yang berbahaya bukan hanya gangguannya. Tetapi ketika kita tidak mengenalinya,” kata Dante dalam Temu Media “Mental Health Awareness” di Jakarta Barat, Jumat 4 September 2026.

Dante menyebut gejala depresi dan kecemasan pada anak serta remaja 1,6 kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Temuan tersebut berdasarkan pemeriksaan CKG dan menunjukkan pentingnya deteksi dini kesehatan jiwa.

Berdasarkan data CKG hingga Juli 2026, sebanyak 34.961 anak usia sekolah dan remaja atau 1,08 persen menunjukkan gejala depresi. Sementara itu, sebanyak 33.290 orang atau 1,03 persen menunjukkan gejala kecemasan.

“Pada kelompok dewasa dan lansia, gejala depresi tercatat 186.629 orang atau 0,66 persen berdasarkan data nasional. Sementara gejala kecemasan mencapai 157.434 orang atau 0,56 persen, menunjukkan perlunya perhatian kesehatan mental masyarakat secara berkelanjutan,” ujar Dante.

Dante juga menyoroti peningkatan persoalan kesehatan jiwa pelajar berusia 11 hingga 17 tahun berdasarkan hasil GSHS. Data tersebut menunjukkan persentase siswa yang berpikir mengakhiri hidup meningkat dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023.

“Persoalan kesehatan jiwa pelajar usia 11 hingga 17 tahun menunjukkan peningkatan berdasarkan hasil GSHS. Data menunjukkan siswa yang berpikir mengakhiri hidup meningkat dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023,” kata Dante.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....