Cuaca Ekstrem Melanda Jabodetabek, Waspadai Penyakit ISPA Menerjang
- 30 Jan 2026 14:52 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Cuaca ekstrem yang melanda Jabodetabek meningkatkan kerentanan terhadap penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Demikian disampaikan oleh Guru Besar Bidang Ilmu Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Universitas Indonesia (UI), Prof. Erlina Burhan.
Menurutnya, cuaca ekstrem berupa hujan berkepanjangan yang terjadi belakangan ini berdampak perubahan suhu dan kelembapan udara. Sehingga bakteri dan virus penyebab ISPA dapat berkembang lebih optimal pada lingkungan dengan suhu dingin.
"ISPA ini macam-macam, tapi tentu saja gejalanya sangat mirip. Salah satunya infeksi saluran pernafasan yang akut tapi di bagian atas, gejala umumnya, batuk, pilek, dan hidung tersumbat," katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Jumat, 30 Januari 2026.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa inflamasi pada hidung tersumbat biasanya disertai keluarnya dahak berwarna bening. Dan dapat sembuh dengan istirahat yang cukup serta asupan makanan yang baik.
Namun, apabila dahak mulai berwarna kehijauan atau kekuningan, hal tersebut biasanya menandakan adanya infeksi tambahan dari bakteri-kuman. "Dalam kondisi ini juga bukan sekedar membutuhkan obat batuk, tapi antibiotik," ucapnya.
Ia menegaskan, bila tiga hingga empat hari tak membaik, batuk berat, dan sesak bisa segera ke fasilitas kesehatan. Pasalnya, kondisi tersebut bisa membutuhkan penanganan lebih lanjut, termasuk kemungkinan pemberian oksigen, sehingga perlu dirawat di rumah sakit.
"Jadi, 4 hari tidak membaik, bahkan semakin berat, misalnya semakin sesak. Ini mungkin butuh oksigen, jadi harus ke rumah sakit," ujarnya.
Selain di Jabodetabek, kewaspadaan penyakit ISPA juga terjadi di wilayah Yogyakarta. Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat 2.095 kasus ISPA yang naik signifikan pada bulan Oktober tahun lalu.
Bahkan, kasus ISPA yang berawal dari penyakit flu kian bermutasi hingga menjadi super flu. Jika terpapar super flu, penderita akan mengalami gejala yang lebih berat.
"Super flu berbeda dengan covid-19. Super flu menyerang saluran pernapasan bagian atas sehingga tidak menimbulkan gangguan berat ke paru-paru," ucap Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Lana Uwanah.
Super flu juga tidak menyebabkan kondisi berat yang membuat penderita harus memakai ventilator. Ia mengimbau agar masyarakat melakukan perilaku hidup bersih dan sehat dengan menjaga asupan gizi, dan istirahat yang cukup.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....