Cuaca Panas Ekstrem Ancam Kesehatan Anak, Orang Tua Diminta Waspada
- 16 Apr 2026 17:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Anak, terutama balita, lebih rentan terhadap cuaca ekstrem karena daya tahan tubuh belum sekuat orang dewasa
- Perubahan suhu, polusi udara, dan sanitasi buruk meningkatkan risiko penyakit seperti ISPA, diare, demam berdarah, dan malaria
- Pencegahan dilakukan dengan menjaga gizi seimbang, kebersihan lingkungan, serta memastikan kualitas udara dan air tetap baik
RRI.CO.ID, Jakarta - Guru besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK Unpad menjelaskan anak lebih rentan terhadap dampak cuaca panas ekstrem. Kerentanan tersebut terjadi karena daya tahan tubuh anak belum sekuat orang dewasa sehingga mudah terpengaruh perubahan lingkungan.
Ia menyebut perubahan suhu, kualitas udara, serta sanitasi lingkungan yang buruk membuat anak lebih mudah terserang berbagai penyakit. Anak-anak, terutama balita, kerap mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara, sanitasi buruk, dan kondisi lingkungan ekstrem.
“Perubahan suhu, kualitas udara, sanitasi lingkungan itu menyebabkan anak menjadi lebih rentan tentunya, daya tahan tubuhnya kan dia belum begitu baik ya. Terutama anak-anak balita, jadi sering mendapatkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan keadaan, kualitas udara, dengan sanitasi lingkungan,” kata Guru besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Prof. dr. Cissy Rachiana Sudjana Prawira kepada RRI PRO3 di Jakarta, Kamis, 16 April 2026.
Menurutnya, penyakit yang muncul dapat berupa infeksi saluran pernapasan akut akibat kualitas udara buruk dan polusi meningkat. Selain itu, penyakit seperti diare juga dapat terjadi jika anak mengkonsumsi air yang tidak bersih.
Ia menambahkan penyakit berbasis lingkungan seperti demam berdarah dan malaria juga berisiko meningkat akibat berkembangnya nyamuk di genangan air. Kondisi cuaca ekstrem yang tidak menentu memperburuk penyebaran virus dan bakteri di lingkungan sekitar anak.
Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh anak melalui asupan gizi seimbang dan lingkungan yang bersih. Upaya pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh untuk melindungi anak dari berbagai risiko penyakit akibat cuaca ekstrem.
“Makannya harus bagus karena daya tahan tubuhnya harus bagus, gizinya harus bagus, harus seimbang, makan protein, lemak, karbohidrat. Vitamin itu semua harus ada di dalam makanannya ya, sehingga daya tahan tubuhnya nanti bagus terus dari dalam,” ujarnya.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun ini datang lebih awal. Kemarau akan berlangsung lebih lama dengan curah hujan di bawah rata-rata klimatologis.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi variabilitas iklim alami. Serta adanya potensi berkembangnya fenomena El Niño pada paruh kedua 2026.
“Hingga akhir Maret 2026, BMKG mencatat sekitar 7 persen zona musim di Indonesia telah memasuki kemarau. Dan jumlah ini diperkirakan meningkat signifikan pada April hingga Juni,” ujar Faisal.
Di sisi lain, lonjakan titik panas juga mulai terlihat. Data pemantauan satelit menunjukkan terdapat 702 hotspot sepanjang 1 Januari hingga 5 April 2026.
Data tersebut meningkat 82,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dengan tren ini, pemerintah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Terutama dalam aktivitas pembukaan lahan. Tujuannya untuk mencegah meluasnya kebakaran di tengah musim kering yang kian ekstrem,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....