Healing, "Tren Anak Muda atau Kebutuhan Jiwa"
- 19 Agt 2025 06:33 WIB
- Bukittinggi
KBRN, Bukittinggi: Belakangan kata healing sering muncul di media sosial. Bagi anak muda, healing biasanya berarti “menenangkan diri” lewat jalan-jalan, nongkrong, atau sekadar me-time. Menurut Poros Jakarta (2023), healing bisa menjadi “pelarian emosional sekaligus bentuk kesadaran akan kesehatan mental.”
Tekanan hidup di era sekarang cukup besar. Generasi muda menghadapi masalah kuliah, kerja, dan juga ekspektasi sosial. Data Kementerian Kesehatan RI (2022) menunjukkan, 1 dari 20 remaja mengalami gangguan mental.
Dosen Psikologi UMM, Riska Andriani, M.Psi, menyebut:
“Generasi Y dan Z lebih sering butuh healing karena mereka menghadapi banyak tekanan yang sebelumnya jarang dialami generasi sebelumnya” (detik.com, 2023).
| Baca juga: Berbagai Cara agar Anak Fokus Belajar |
Kebutuhan atau Gaya Hidup?
Sebagai kebutuhan jiwa: Healing membantu mengatur emosi, menenangkan pikiran, dan menjaga kesehatan mental. Misalnya lewat meditasi, journaling, atau berjalan di alam.
Sebagai tren gaya hidup: Di sisi lain, di media sosial healing sering ditampilkan sebagai liburan mewah atau belanja konsumtif. Media Dosen (2023) menyebut hal ini bisa membuat healing hanya jadi gaya hidup, bukan penyelesaian masalah.
Di TikTok dan Instagram, tagar #healing sering viral. Menurut riset Snapcart (2023), Gen Z di Indonesia bahkan rela mengeluarkan uang lebih untuk kegiatan healing seperti traveling atau perawatan diri, karena dianggap bagian dari “self-love” dan kesejahteraan hidup.
| Baca juga: Pentingnya Sarapan untuk Memulai Aktivitas |
Psikolog Ratih Ibrahim pernah menekankan bahwa healing sebaiknya tidak hanya dijadikan ajang pelarian, melainkan:
“Proses menyadari masalah, menerima, lalu mencari jalan penyelesaian. Kalau hanya liburan tanpa refleksi, itu hanya sementara.” (Kumparan, 2023)
Healing bisa menjadi kebutuhan jiwa saat dilakukan dengan kesadaran penuh untuk menjaga kesehatan mental. Namun, jika hanya dijadikan tren konsumtif, healing bisa kehilangan maknanya. Kuncinya ada pada keseimbangan: menemukan ketenangan sekaligus memahami diri lebih dalam. (APS/YPA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....