Mengapa Sulit Memaafkan Diri Sendiri?
- 18 Agt 2025 06:32 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar: Menurut laman ScienceDaily, sebuah studi dari Flinders University mengungkap alasan sulitnya seseorang memaafkan diri. Memaafkan diri sendiri itu butuh waktu, refleksi, dan dukungan.
Penelitian ini membedah pengalaman nyata dari 80 orang, para individu yang terjebak dalam rasa bersalah dan malu. Sebagian dari mereka akhirnya berhasil memaafkan diri, sedangkan yang lain merasa tidak akan pernah bisa.
Penelitian mengungkap bahwa yang sulit memaafkan diri merasa kejadiannya masih baru. Padahal, bisa saja itu terjadi bertahun-tahun lalu, dimana mereka terus mengulang-ulang momen pahit tersebut di dalam pikiran mereka.
Mereka merasa terjebak di masa lalu, terperangkap dalam emosi seperti rasa bersalah, penyesalan, dan malu. Profesor Lydia Woodyatt, seorang psikolog, mengatakan ini bukanlah sekadar "melepaskan" begitu saja.
Bahkan, mereka yang sudah memaafkan diri masih terkadang merasakan emosi ini. Bedanya, intensitas emosi mereka jauh lebih rendah dan tidak lagi mengendalikan hidupnya.
Mereka juga sadar untuk fokus pada masa depan dan menerima keterbatasan mereka. Hal ini membantu mereka untuk berdamai dengan masa lalu dan berani menata masa depan.
Studi juga menemukan rasa bersalah muncul pada orang yang kita sayangi ketika menjadi korban, contohnya orang tua, pasangan, atau teman dekat. Menurut Profesor Woodyatt, ini menantang ide bahwa memaafkan diri hanya untuk orang yang bersalah.
Rasa malu atau bersalah juga muncul saat kita merasa bertanggung jawab penuh atas sebuah situasi yang kita sendiri tidak dapat mengendalikan hasilnya. Emosi adalah sebuah petunjuk bagi otak untuk menyelesaikan apa yang diperlukan.
Menurut Profesor Woodyatt, ini tentang otak yang membantu kita melewati 'luka moral' (moral injury). Ini adalah ancaman inti terhadap kebutuhan psikologis seperti kehendak dan otonomi juga kebutuhan kita untuk merasa memiliki (belonging).
Intinya, memaafkan diri bukanlah keputusan sekali jalan, tetapi sebuah proses yang panjang. Proses ini butuh waktu dan refleksi, serta dukungan dari orang lain.
Profesor Woodyatt menyatakan, para profesional kesehatan mental juga perlu memahami hal ini. Dokter Melissa de Vel-Palumbo menambahkan, riset ini memberi wawasan berharga bagi kriminolog.
Ini menunjukkan bagaimana seseorang memproses rasa bersalah dan tanggung jawab. Hal ini juga menjadi faktor kunci untuk memahami perilaku pelaku kejahatan dan rehabilitasinya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....