Perilaku Seksual Kompulsif: Penyebab, Pencegahan, dan Solusi
- 03 Mei 2025 17:39 WIB
- Banjarmasin
KBRN, Banjarmasin: Kasus kelainan seksual yang ramai belakangan ini membuat publik penasaran. Perilaku seksual kompulsif terbagi dua yakni parafilia dan non-parafilia. Hal tersebut dikatakan Listya Rahmita Dosen Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam UIN Antasari Banjarmasin, Sabtu (3/5/2025).
Parafilia adalah dorongan seksual yang menyimpang. Contohnya eksibisionisme (memperlihatkan alat kelamin di depan umum), pedofilia (tertarik pada anak-anak dibawahnya umur), dan fetisisme (tertarik pada benda atau bagian tubuh yang tak lazim secara seksual)
"Penyebabnya belum diketahui pasti, tapi diduga karena faktor otak, emosi, dan sosial. Lingkungan dan pengalaman masa kecil sangat memengaruhi,” kata Lisya, sapaan akrabnya, kepada RRI Banjarmasin.
Menurutnya, fetish menjadi salah satu bentuk parafilia yang kini disorot. Ini adalah ketertarikan seksual pada objek atau bagian tubuh tertentu yang tak lazim. Fetish bisa dialami pria maupun wanita, dan biasanya muncul sejak pubertas.
Pada sebagian orang, fetish bisa menetap, hilang, atau muncul kembali. Jika sudah mengganggu aktivitas atau melibatkan paksaan, fetish dianggap menyimpang, dan jangan tunggu parah, intervensi sejak awal jauh lebih efektif.
"Fetish juga bisa menjadi bagian dari gangguan seksual kompulsif.
Hal ini dapat berdampak pada kesehatan mental dan fisik seseorang," ujar Lisya.
Ada dua teori yang menjelaskan kenapa seseorang bisa punya fetish, yaitu Psikoanalisis dan Behavioral. Psikoanalisis menyebut fetish muncul dari gambaran orang tua, terutama ibu, yang terbentuk sejak kecil.
Sedangkan teori Behavioral menilai fetish berasal dari trauma masa kecil atau pengalaman seksual yang berulang. Jika objek seksual terus-menerus memberi rasa puas, lama-lama bisa timbul kecanduan.
"Dan jika otak terbiasa dengan hal itu, lalu sulit merasa puas tanpa objek itu," ucap Lisya.
Selanjutnya, pencegahan bisa dimulai dengan mengenali gejala sejak dini dan bicarakan pada orang terpercaya. Jangan ragu mencari bantuan profesional, dan jika sudah mengganggu segera konsultasi dengan psikiater atau psikolog.
Penanganan bisa dilakukan lewat terapi seperti CBT, ACT, dan psikoterapi psikodinamik. CBT membantu mengubah pola pikir negatif, sedangkan ACT melatih penerimaan emosi sulit, psikodinamik menggali konflik masa lalu yang belum selesai.
"Obat-obatan juga bisa diberikan, tapi harus sesuai anjuran dokter. Intervensi dini jauh lebih efektif,” ujarnya menambahkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....