Mengenal Zona Megathrust dan Potensinya di Indonesia

  • 28 Agt 2026 20:18 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Indonesia berada di kawasan tektonik aktif yang dikelilingi sejumlah zona megathrust. Wilayah tersebut menjadi perhatian karena berpotensi menghasilkan gempa bumi berkekuatan besar, bahkan mencapai lebih dari magnitudo 8.

Megathrust merupakan bagian dari zona subduksi, yaitu bidang kontak tempat satu lempeng tektonik menunjam ke bawah lempeng lainnya.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan pada zona megathrust, bidang kontak antarlempeng relatif dangkal dan dapat terkunci dalam waktu yang cukup lama.

Kondisi tersebut menyebabkan energi atau regangan terus terakumulasi. Ketika regangan dilepaskan secara tiba-tiba melalui pergeseran besar pada bidang megathrust, gempa bumi berkekuatan besar dapat terjadi.

“Jika rupture menyebabkan deformasi dasar laut yang signifikan, gempa tersebut juga dapat memicu tsunami,” kata Daryono saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (24/8/2026).

14 Segmen Megathrust

Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, terdapat 14 segmen megathrust yang dipetakan dalam keseluruhan sistem regional. Sebanyak 11 segmen berada di Indonesia, sedangkan tiga lainnya berada di wilayah Filipina.

Di Indonesia, sistem subduksi tersebut terutama berada di kawasan pantai barat Sumatra, selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, hingga Sulawesi Utara.

Selain itu, terdapat sistem subduksi di kawasan Banda dan Indonesia bagian timur yang memiliki karakter tektonik berbeda, tetapi tetap menjadi bagian dari wilayah yang memiliki potensi bahaya gempa.

Berikut 14 segmen megathrust beserta potensi magnitudo maksimumnya:

  1. Megathrust Aceh-Andaman – potensi maksimum M9,2.
  2. Megathrust Nias-Simeulue – potensi maksimum M8,7.
  3. Megathrust Batu – potensi maksimum M7,8.
  4. Megathrust Mentawai-Siberut – potensi maksimum M8,9.
  5. Megathrust Mentawai-Pagai – potensi maksimum M8,9.
  6. Megathrust Enggano – potensi maksimum M8,9.
  7. Megathrust Jawa – potensi maksimum M9,1.
  8. Megathrust Jawa bagian barat – potensi maksimum M8,9.
  9. Megathrust Jawa bagian timur – potensi maksimum M8,9.
  10. Megathrust Sumba – potensi maksimum M8,9.
  11. Megathrust Sulawesi Utara – potensi maksimum M8,5.
  12. Megathrust Palung Cotabato – potensi maksimum M8,3.
  13. Megathrust Filipina Selatan – potensi maksimum M8,2.
  14. Megathrust Filipina Tengah – potensi maksimum M8,1.

Tiga Segmen Jadi Perhatian

Dari sejumlah segmen tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan perhatian khusus terhadap Megathrust Mentawai-Siberut, Sumba, serta wilayah Selat Sunda yang masuk dalam segmen Jawa bagian barat.

Ketiganya memiliki indikasi seismic gap, yakni bagian dari sistem subduksi yang dalam catatan sejarah relatif jarang mengalami gempa besar dalam periode tertentu.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan sejumlah segmen tersebut terus dipantau karena sudah cukup lama tidak mengalami gempa besar.

“Semua segmen ini bisa berpotensi gempa besar. Namun demikian, ini ada yang kita curigai, ada beberapa segmen yang kemungkinan sudah lama tidak terjadi gempa-gempa besar,” jelas Wijayanto.

Ia mencontohkan segmen Mentawai-Siberut yang disebut sudah cukup lama tidak mengalami gempa besar. Hal serupa juga menjadi perhatian pada segmen Jawa bagian barat yang mencakup Selat Sunda dan segmen Sumba.

Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa informasi mengenai potensi megathrust bukan berarti gempa besar akan segera terjadi.

Potensi megathrust merupakan gambaran mengenai risiko gempa dalam jangka panjang. Hingga saat ini, waktu terjadinya gempa bumi belum dapat diprediksi secara pasti.

Berpotensi Picu Tsunami dan Kerusakan

Gempa besar yang terjadi pada zona megathrust dapat menimbulkan sejumlah dampak, salah satunya tsunami.

Tsunami dapat terjadi apabila gempa berlangsung di bawah laut dan menyebabkan perubahan atau pergeseran dasar laut dalam skala signifikan.

Sebagai contoh, apabila gempa besar terjadi di segmen Mentawai-Siberut, sejumlah wilayah seperti Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Bengkulu berpotensi terdampak.

“Kalau rilisnya di segmen Mentawai-Siberut, tentunya nanti daerah Sumatera Barat, daerah Sumatera Utara, daerah Bengkulu itu akan terdampak, dan mungkin bisa juga nanti berdampak ke negara-negara sekitar Indian Ocean,” ujar Wijayanto.

BMKG telah mengembangkan sistem peringatan dini tsunami untuk memberikan informasi kepada masyarakat apabila terjadi gempa yang memiliki potensi memicu tsunami.

Selain tsunami, gempa megathrust juga dapat menimbulkan guncangan kuat yang berpotensi merusak bangunan dan infrastruktur. Dampak lanjutan seperti tanah longsor hingga kebakaran juga dapat terjadi bergantung pada kondisi wilayah terdampak.

Karena itu, keberadaan zona megathrust seharusnya tidak menjadi alasan untuk panik. Informasi tersebut justru menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk memahami potensi risiko gempa, memperkuat kesiapsiagaan, serta mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....