Tiga Pelajaran kesabaran yang diajarkan Siti Hajar

  • 06 Jun 2026 18:23 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - RRI Pro 1 Kendari eksis dalam Program Mutiara Pagi menghadirkan kajian agama Islam bersama ustadz dan ustadzah yang ahli di bidangnya. Setiap pagi pendengar dapat menimba ilmu agama, memahami nilai-nilai Islam, serta mendapatkan pencerahan untuk kehidupan sehari-hari. Hadir dalam Mutiara Pagi ustadz Dr. H. Samsuri S.Ag., M.Pd Wakil Direktur Pasca Sarjana IAIN Kendari mengangkat topik Shabrun Jamiil : Meneladani Kesabaran Siti Hajar, dalam Peristiwa Sa'i . Sabtu, 6 Juni 2026.

Melalui acara tersebut, Dr. Samsuri menyampaikan kepada diri pribadi dan segenap pendengar senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah, dan menghiasi diri kita dengan sabar yang indah (Shabrun Jamil).

Dalam rangkaian ibadah haji, ada satu rukun yang sangat istimewa. Sebuah ritual lari-lari kecil sebanyak tujuh kali antara bukit Safa dan Marwa, yang disebut Sa'i. Jika kita melihatnya sekilas, ia tampak seperti aktivitas fisik semata. Namun, di balik setiap langkah Sa'i, tersimpan sebuah kisah epik yang mengajarkan kita pelajaran terpenting dalam hidup: pelajaran tentang kesabaran, perjuangan, dan tawakal seorang ibu yang mulia, Siti Hajar.

Sa'i bukanlah sekadar lari. Sa'i adalah napak tilas perjuangan seorang hamba yang menunjukkan level kesabaran tertinggi, sebuah "sabar yang indah". Allah berfirman tentang konsep sabar ini dalam surat Yusuf:

...فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

Artinya: "...Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." (QS. Yusuf: 18).

Shabrun Jamil adalah kesabaran yang tidak disertai keluh kesah, tidak diiringi kemarahan kepada takdir, dan tetap dipenuhi dengan harapan kepada Allah. Inilah kesabaran yang diajarkan oleh Siti Hajar.

Pelajaran Pertama: Tawakal Sempurna di Tengah Ketidakpastian. Mari kita bayangkan sejenak kondisi Siti Hajar. Ia ditinggalkan oleh suaminya, Nabi Ibrahim, di sebuah lembah yang tandus, kering kerontang, tiada tumbuhan, tiada pula manusia. Bersama siapa? Bersama seorang bayi yang masih menyusu, Ismail. Bekal air dan kurma yang sedikit, ia tahu tidak akan bertahan lama.

Saat Ibrahim berbalik untuk pergi, Hajar menarik bajunya dan bertanya, "Wahai Ibrahim, hendak ke mana engkau pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang pun dan tidak ada sesuatu pun ini?" Ibrahim tidak menoleh. Hajar bertanya lagi, lalu ia mengubah pertanyaannya menjadi sebuah pertanyaan kunci, "Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?" Ibrahim menjawab singkat, "Ya." Mendengar jawaban itu, seketika Hajar menjadi tenang. Ia lepaskan genggamannya dan berkata dengan penuh keyakinan, "Kalau begitu, Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kami."

Allahu Akbar! Inilah fondasi dari sabar yang indah: keyakinan total bahwa selama kita berada di atas perintah Allah, maka pertolongan-Nya pasti akan datang.

Pelajaran Kedua: Sabar yang Aktif, Ikhtiar yang Maksimal. Keyakinan dan tawakal Hajar tidak membuatnya hanya duduk pasrah menunggu keajaiban turun dari langit. Saat bekal habis dan Ismail menangis menjerit-jerit kehausan, insting keibuannya bangkit. Imannya mendorongnya untuk bergerak. Inilah sabar yang aktif.

Ia berlari ke bukit terdekat, Safa, berharap melihat kafilah atau sumber air. Tidak ada apa-apa. Ia turun dan berlari lagi menuju bukit Marwa. Tetap tidak ada apa-apa. Ia lakukan itu bolak-balik, tujuh kali, dalam keadaan panik namun tidak pernah putus asa. Ia kerahkan seluruh tenaganya, ia lakukan ikhtiar terbaik yang bisa ia lakukan sebagai manusia. Inilah perjuangan yang diabadikan menjadi Sa'i. Ini mengajarkan kita bahwa tawakal harus diiringi dengan ikhtiar.

Pelajaran Ketiga: Pertolongan Allah Datang dari Arah Tak Terduga. Setelah Hajar menyelesaikan ikhtiarnya, di puncak kelelahan dan kepasrahannya, di manakah pertolongan Allah datang? Bukan di bukit Safa, bukan pula di bukit Marwa tempat ia berlari. Pertolongan itu datang dari tempat yang tidak ia duga sama sekali. Atas izin Allah, malaikat Jibril menghentakkan sayapnya ke tanah tepat di dekat kaki kecil Ismail yang sedang menangis. Dan dari situlah, memancarlah air Zamzam yang penuh berkah hingga hari ini.

Ini adalah pelajaran agung dari Allah: Tugas kita adalah berikhtiar dengan sabar, urusan hasil serahkan kepada Allah. Terkadang, pertolongan-Nya datang bukan dari arah yang kita usahakan, melainkan dari arah yang tidak pernah kita sangka-sangka.

...وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ...

Artinya: "...Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya..." (QS. At-Talaq: 2-3).

Kisah Hajar adalah tafsir nyata dari ayat ini.

Setiap dari kita memiliki "lembah tandus"-nya masing-masing. Mungkin itu masalah ekonomi, penyakit, atau persoalan keluarga. Kisah Sa'i mengajarkan kita untuk menghadapinya dengan sabar yang indah: bertawakal penuh, berikhtiar maksimal, lalu biarkan Allah memberikan jalan keluar terbaik-Nya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....