Serupa tapi Tak Sama, Air Mata Messi dan Ronaldo di 16 Besar Piala Dunia 2026

  • 08 Jul 2026 08:02 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Babak 16 besar Piala Dunia 2026 menghadirkan dua potret emosional dari dua ikon terbesar sepak bola modern, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Sama-sama menitikkan air mata di lapangan, tetapi dengan cerita yang sangat berbeda. Yang satu menangis karena berhasil bangkit dan membawa timnya lolos, sementara yang lain harus menahan pilu setelah mimpinya menjadi juara dunia kembali kandas.

Cristiano Ronaldo lebih dulu menjadi sorotan ketika Portugal disingkirkan Spanyol dengan skor tipis 0-1. Kekalahan itu terasa begitu menyakitkan karena diperkirakan menjadi penampilan terakhir Ronaldo di Piala Dunia. Usai peluit panjang berbunyi, kapten Portugal itu tak kuasa menahan air mata. Ia terduduk di lapangan sebelum akhirnya meninggalkan arena pertandingan dengan wajah penuh kekecewaan.

Tangisan Ronaldo menjadi simbol berakhirnya satu perjalanan panjang. Di usia yang tak lagi muda, kesempatan mengangkat trofi Piala Dunia tampaknya benar-benar telah tertutup. Sepanjang kariernya, Ronaldo telah meraih hampir seluruh gelar bergengsi di level klub maupun individu, tetapi trofi Piala Dunia tetap menjadi kepingan terakhir yang belum berhasil ia genggam.

Berbeda dengan Ronaldo, Lionel Messi juga sempat berada dalam situasi sulit saat Argentina menghadapi Mesir. Sang kapten gagal mengeksekusi penalti pada babak pertama, sementara Argentina tertinggal 0-2 hingga memasuki 20 menit terakhir pertandingan.

Di tengah tekanan besar, Messi justru menunjukkan mental seorang juara. Ia tidak tenggelam dalam rasa kecewa akibat penalti yang gagal, melainkan terus memimpin permainan Argentina. Umpan silangnya berbuah gol Cristian Romero untuk memperkecil kedudukan, sebelum Messi sendiri mencetak gol penyeimbang yang mengubah arah pertandingan.

Momentum itu menjadi titik balik kebangkitan La Albiceleste. Pada masa injury time, Enzo Fernandez mencetak gol kemenangan yang memastikan Argentina menang dramatis 3-2 sekaligus melaju ke perempat final.

Setelah peluit akhir berbunyi, Messi terlihat menitikkan air mata. Namun, berbeda dengan Ronaldo, air mata Messi lahir dari rasa lega dan kebahagiaan setelah berhasil membawa Argentina keluar dari situasi nyaris mustahil.

Dua momen tersebut memperlihatkan sisi lain dari dua legenda yang selama hampir dua dekade mendominasi sepak bola dunia. Keduanya sama-sama emosional, sama-sama menangis, tetapi dengan makna yang bertolak belakang.

Bagi Ronaldo, air mata itu menjadi penanda berakhirnya sebuah mimpi yang belum sempat diwujudkan. Sementara bagi Messi, tangisan tersebut menjadi pelampiasan atas perjuangan luar biasa yang berujung kemenangan, sekaligus membuka harapan untuk mempertahankan gelar juara dunia yang diraih Argentina pada edisi sebelumnya.

Ironisnya, ketika satu legenda harus mengakhiri perjalanan, legenda lainnya justru terus menulis sejarah. Messi kini tidak hanya membawa Argentina ke babak perempat final, tetapi juga memimpin daftar top skor sementara Piala Dunia 2026 dengan delapan gol. Di usia 39 tahun, ia masih menjadi tumpuan La Albiceleste dalam upaya mempertahankan mahkota juara dunia.

Babak 16 besar Piala Dunia 2026 pun akan selalu dikenang sebagai panggung yang memperlihatkan dua tangisan dengan makna berbeda. Serupa karena sama-sama lahir dari dua pemain terbaik generasinya, tetapi tak sama karena satu menjadi air mata perpisahan, sementara yang lain menjadi air mata harapan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....