F1 2026: Red Bull Tertekan usai Tiga Seri Awal, Mampukah Bangkit Lagi?

  • 28 Apr 2026 10:21 WIB
  •  Kendari
Poin Utama
  • F1
  • Red Bull Racing Team
  • F1 Red Bull
  • Max Verstappen
  • Isack Hadjar

RRI.CO.ID - Kendari, Setelah bertahun-tahun menjadi standar dominasi Formula 1, Red Bull kini menghadapi kenyataan yang tak biasa: tertinggal di belakang tim-tim midfield. Tiga balapan pertama musim 2026 menjadi pembuka yang suram bagi tim Milton Keynes. Dengan hanya 16 poin, Red Bull terdampar di peringkat keenam klasemen konstruktor—jauh tertinggal dari Mercedes yang sudah mengumpulkan 135 poin, dan bahkan masih di belakang Haas serta Alpine. Situasi ini berbanding terbalik dengan ekspektasi saat pramusim. George Russell bahkan sempat menunjuk Red Bull sebagai salah satu tim yang patut diwaspadai usai tes Bahrain. Namun potensi itu belum pernah benar-benar terlihat di lintasan balap.

Dari Australia hingga Suzuka: Awal Musim Penuh Gangguan







Di Australia, secercah harapan sempat muncul saat Isack Hadjar tampil mengejutkan dengan merebut posisi start ketiga (P3). Namun akhir pekan itu juga menyoroti masalah besar Red Bull. Max Verstappen mengalami crash tak biasa di kualifikasi saat mobilnya kehilangan grip dan berputar.

63.18%





Pada balapan, Isack Hadjar gagal finish akibat masalah mesin, sementara Max Verstappen hanya mampu bangkit dari belakang menuju posisi keenam (P6).







Di China, keadaan bahkan memburuk. Kedua pembalap terus mengeluhkan karakter RB22 sepanjang akhir pekan. Meski lolos Sprint dari barisan belakang 10 besar, keduanya gagal mencetak poin. Grand Prix utama pun tak jauh lebih baik. Isack Hadjar hanya finish kedelapan (P8), sementara Max Verstappen kembali DNF akibat masalah power unit.







Di Sirkuit Suzuka sedikit lebih stabil karena kedua mobil finish, tetapi hanya Max Verstappen yang mencetak poin lewat posisi delapan (P8).

Masalah Red Bull Lebih Dalam dari Sekadar Kecepatan







Persoalan Red Bull saat ini tidak hanya soal kurang cepat. RB22 tampak belum memiliki fondasi teknis yang stabil. Balance mobil tidak konsisten, karakter handling sulit diprediksi, dan mesin baru Red Bull Ford Powertrains belum sepenuhnya andal.







Dengan tim juga harus mengembangkan power unit sendiri di era regulasi baru, sumber daya mereka terbagi dalam dua perang sekaligus. Sementara itu, Mercedes terus melesat di depan. Bahkan jika Red Bull membawa paket upgrade besar, tantangannya mungkin baru sebatas mengejar Ferrari dan McLaren, bukan langsung merebut kembali puncak.

Hadjar Jadi Titik Terang di Tengah Krisis







Di tengah semua kesulitan itu, satu kabar baik datang dari Isack Hadjar. Rookie asal Prancis tersebut memberi impresi kuat sejak debutnya. Selain mampu menjaga jarak performa yang cukup dekat dengan Max Verstappen, ia menunjukkan ketenangan saat tekanan besar hadir—terutama di Australia.

35.79%





Bagi Red Bull yang beberapa musim terakhir kesulitan menemukan tandem kompetitif untuk Max Verstappen, itu bukan hal kecil.

Fokus ke Miami: Momentum Kebangkitan atau Krisis Berlanjut?







Jeda menuju Miami kini menjadi fase penting. Red Bull perlu menggunakan waktu ini untuk membenahi reliabilitas, menemukan set-up yang membuat Max Verstappen nyaman, dan menutup kesenjangan performa sebelum musim berkembang terlalu jauh.







Karena jika tidak, tim yang biasanya berburu gelar bisa justru terseret lebih lama dalam pertarungan papan tengah. Untuk sekarang, Red Bull belum keluar dari perebutan. Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu lama, mereka bukan pemburu utama—melainkan tim yang sedang mencoba mengejar kembali barisan depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....