Mahasiswa Asal Konsel Kembangkan Teknologi microwave di Jepang
- 26 Agt 2026 06:49 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari: Putra daerah asal Kecamatan Sabulakoa, Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara, I Putu Abdi Karya (30) berhasil membangun perjalanan akademik hingga menjadi peneliti muda Indonesia di Jepang.
Setelah menyelesaikan pendidikan S1 di FMIPA Universitas Halu Oleo (UHO), dirinya melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di University of Fukui, Jepang, melalui beasiswa Monbukagakusho (MEXT) yang sepenuhnya mendanai pendidikannya.
Di Jepang, Abdi Karya aktif berkontribusi dalam pengembangan teknologi berbasis microwave untuk menjawab persoalan energi, lingkungan, dan pengolahan sumber daya. Salah satu fokus risetnya adalah pengembangan teknologi pengolahan bijih nikel laterit Indonesia dengan proses yang lebih efisien dan berpotensi menekan konsumsi energi serta emisi CO₂.
Penelitian tersebut juga menghasilkan inovasi yang telah dikembangkan hingga tingkat PCT (Patent Cooperation Treaty) bersama profesor dan peneliti University of Fukui. Tidak hanya pada sektor mineral, Abdi Karya juga mengembangkan teknologi konversi limbah plastik dan bio massa menjadi hidrogen (H₂) serta material karbon bernilai tinggi seperti Carbon Nanotubes (CNTs). Pendekatan ini menawarkan konsep waste-to-energy dan waste-to-material, yaitu mengubah limbah menjadi sumber energi dan material fungsional yang memiliki nilai tambah.

Saat wawancara melalui telepon seluler, Abdi Karya mengatakan ketertarikannya terhadap teknologi lingkungan dan microwave telah dimulai sejak masa perkuliahan S1 di Universitas Halu Oleo.
“Saya sudah melakukan fokus penelitian di bidang lingkungan dan microwave sejak masa-masa perkuliahan S1 di UHO, kemudian berlanjut saat mendapatkan beasiswa S2 dan S3 di Jepang. Sekarang sudah berkontribusi untuk 5 paten sejak tahun 2021 dan ada beberapa penemuan lagi yang siap dipatenkan dalam waktu dekat,” ungkapnya, Senin 24 Agustus 2026.
Dengan demikian, perjalanan riset tersebut telah berlangsung selama beberapa tahun dan terus berkembang dari penelitian tingkat sarjana hingga penelitian doktoral. Hingga saat ini, Abdi Karya telah berkontribusi sebagai inventor dalam lima paten di Jepang, termasuk inovasi yang dikembangkan bersama peneliti University of Fukui. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah seiring dengan beberapa hasil penelitian yang sedang dipersiapkan untuk proses pematenan.
Hasil penelitiannya juga telah dipresentasikan dalam berbagai konferensi ilmiah di Jepang dan mendapatkan sejumlah penghargaan, termasuk Shikoku Instrumentation Co., Ltd. Award dan Research Encouragement Award pada JEMEA Symposium 2025.
Perjalanan dari Sabulakoa hingga laboratorium riset di Jepang menjadi gambaran bahwa mahasiswa dari daerah juga memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam pengembangan teknologi global. Melalui risetnya, Abdi Karya membawa berbagai persoalan dan potensi sumber daya Indonesia mulai dari nikel, limbah plastik, hingga bio massa kedalam pengembangan teknologi rendah karbon, energi hidrogen, dan material masa depan.
Selain berbicara mengenai penelitian, Abdi Karya juga mendorong mahasiswa Indonesia, khususnya dari daerah, untuk lebih aktif mencari peluang pendidikan di luar negeri. Menurutnya, kesempatan mendapatkan beasiswa keJepang sebenarnya cukup terbuka selama calon mahasiswa mau mencari informasi dan mempersiapkan diri.
“Sebenarnya kalau untuk dapat beasiswa di Jepang tidakt erlalu sulit, tergantung sejauh mana kita bisa mencari informasi dan mau belajar saja, karena beasiswa di Jepang sangat banyak,” kata Abdi.
Perjalanan Abdi Karya menunjukkan bahwa kesempatan pendidikan dan penelitian di Jepang dapat menjadi pintu bagi mahasiswa Indonesia untuk mengembangkan kemampuan sekaligus menghasilkan inovasi yang dapat memberi manfaat bagi Indonesia.
Perjalanan tersebut juga tidak terlepas dari peran University of Fukui dalam membuka akses pendidikan dan penelitian bagi mahasiswa internasional. University of Fukui menerima mahasiswa internasional melalui berbagai jalur pendidikan dan menyediakan sejumlah peluang beasiswa, termasuk Japanese Government (MEXT) Scholarship melalui jalur rekomendasi universitas maupun rekomendasi Kedutaan Besar Jepang. Universitas tersebut juga menyediakan berbagai program berbahasa Inggris dan dukungan bagi mahasiswa internasional yang ingin melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister maupun doktoral.
Melalui kesempatan tersebut, University of Fukui menjadi salah satu jembatan bagi mahasiswa Indonesia untuk mengembangkan pendidikan dan riset di Jepang, sekaligus membawa pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh kembali untuk berkontribusi terhadap pengembangan teknologi di Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....