Jombang Hadapi Ancaman Karhutla di Puncak Kemarau

  • 19 Sep 2026 18:13 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Jombang - Kabupaten Jombang menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah puncak musim kemarau. Kondisi vegetasi yang mengering, cuaca panas, dan hembusan angin meningkatkan potensi api cepat menjalar, terutama di lahan terbuka dan perkebunan warga.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Jombang, Wiku Birawa Felipe Diaz Quintas, mengatakan sepanjang 2026 telah tercatat 72 kejadian kebakaran hutan dan lahan di wilayah Jombang. Peningkatan kasus paling tinggi terjadi pada Agustus 2026.

Menurut Wiku, laporan kebakaran yang masuk ke BPBD rata-rata mencapai tiga hingga empat kejadian setiap hari. Sebagian besar kebakaran terjadi di lahan perkebunan milik masyarakat.

Ia menyebut kelalaian manusia masih menjadi salah satu faktor utama pemicu kebakaran. Pembakaran sampah yang tidak terkendali maupun pembukaan lahan dengan cara membakar berpotensi membuat api merembet ke area lain.

“Banyak kejadian bermula dari kelalaian manusia. Misalnya, pembakaran sampah yang tidak diawasi atau pembukaan lahan dengan cara dibakar, kemudian api merembet ke wilayah di sekitarnya,” kata Wiku, Sabtu, 19 September 2026.

Hingga September 2026 ini, BPBD Jombang memberi perhatian terhadap lahan kosong dan rumpun bambu yang mulai mengering. Kondisi tersebut membuat material vegetasi lebih mudah terbakar ketika terkena sumber api.

Wiku menjelaskan, rumpun bambu yang kering dapat membuat api cepat membesar dan menjalar ke lingkungan sekitar. Risiko tersebut semakin tinggi apabila rumpun bambu maupun lahan kering berada dekat dengan permukiman atau fasilitas umum.

“Material bambu yang sudah kering sangat mudah terbakar. Ketika terkena api, kobaran dapat dengan cepat merambat, terlebih jika lokasinya berdekatan dengan rumah warga atau fasilitas umum,” ujarnya.

Ia meminta masyarakat tidak meninggalkan sumber api dalam kondisi masih menyala maupun menyisakan bara. Api harus dipastikan benar-benar padam sebelum warga meninggalkan lokasi.

“Jangan sampai api atau bara ditinggalkan dalam kondisi masih menyala. Pastikan semuanya benar-benar padam sebelum meninggalkan tempat,” kata Wiku.

Wiku mencontohkan kebakaran lahan kering yang terjadi di Desa Bawangan, Kecamatan Ploso. Kebakaran tersebut berhasil ditangani oleh tim BPBD Jombang sehingga tidak meluas ke area lainnya.

Berdasarkan pemetaan BPBD, Kecamatan Wonosalam, Plandaan, Kabuh, Ploso, dan Ngusikan menjadi wilayah yang memiliki potensi kebakaran hutan dan lahan. Sementara itu, jumlah kejadian kebakaran terbanyak tercatat di Kecamatan Jombang, Diwek, dan Mojoagung.

Pola kejadian di lapangan menunjukkan kebakaran lahan dapat dipicu berbagai aktivitas manusia. Selain pembakaran sampah, api juga diduga berasal dari pembakaran sisa tanaman tebu maupun puntung rokok yang dibuang sembarangan.

BPBD meminta masyarakat menghindari pembakaran sampah, jerami, daun kering, maupun material mudah terbakar lainnya di lahan terbuka, terutama ketika cuaca panas dan angin bertiup kencang. Jika pembakaran benar-benar diperlukan, masyarakat diminta melakukan pengawasan secara penuh dan memastikan api serta bara telah padam sebelum meninggalkan lokasi. Warga juga diminta membersihkan lingkungan sekitar rumah dari tumpukan daun dan ranting kering.

Masyarakat diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api dan tidak menunggu hingga kebakaran membesar. Laporan dapat disampaikan melalui Call Center Damkar Jombang di 0812-5259-6233 atau layanan darurat 112.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....