Mimo Tempat Belajar Pertama Gibran mengenal Mikroplastik di Kali Tebu.

  • 01 Sep 2026 16:03 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri — Belajar tentang pencemaran lingkungan tidak harus dilakukan di dalam kelas. Mimo (Microplastic Mobile Laboratory) hadir untuk mendorong masyarakat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai sekaligus sebagai mobile environmental health laboratory yaitu program aksi kesehatan mental bagi anak dan remaja.

Direktur Ecoton, Prigi mengatakan melalui Mimo, siswa tidak hanya belajar mengenali pencemaran mikroplastik dan melakukan penelitian sederhana di lingkungan sekitar, tetapi juga diajak memahami serta mengelola kecemasan terhadap kerusakan lingkungan. Pendekatan ini mendorong siswa mengubah rasa takut, khawatir menjadi pengetahuan dan langkah nyata untuk menguranginya.

Ia memaparkan adanya Mimo ditujukan untuk 3 hal yaitu: Pengetahuan, Skill, dan Attitude."Pengetahuan didapatkan saat siswa belajar mengenai jenis-jenis mikroplastik dan dampaknya bagi tubuh; skill didapatkan saat siswa mengambil sampel di daun, kulit, dan di minuman dalam kemasan plastik; sedangkan attitude disalurkan setelah siswa mendapatkan edukasi yang nantinya akan disampaikan ke orang tua atau lingkungan terdekat,” ucapnya, Senin, 31 Agustus 2026.

Dalam kegiatan ini lanjut Prigi, para siswa belajar mengenai mikroplastik secara langsung di pinggir Kali Tebu. Mereka diajak mengambil sampel air sungai dan mengamatinya menggunakan peralatan laboratorium yang tersedia di dalam Mobil Laboratorium Mikroplastik.

Sofi, sebagai staff Ecoton menegaskan pada siswa siswi perlu mengurangi minum di plastik"Gak boleh ya kalian minum es cekek di plastik kaya gini, soalnya dapat mengandung mikroplastik di dalamnya, jadi kalau mau minum minta ganti di tumblr aja" katanya sembari melepas senyum kepada siswa yang hadir.

Siswa tidak hanya belajar, tetapi diberikan pemahaman bahwa mikroplastik dapat ditemukan dimana saja. Gibran, siswa kelas 3 SD Negeri Tanah Kali Kedinding merasa senang dengan kehadiran Mimo. Menurutnya, pembelajaran mengenai mikroplastik menjadi lebih menarik karena dilakukan secara langsung dan dikemas dengan kegiatan yang menyenangkan.

“Seneng sekali, ini hal baru bagi kita, bisa main-main sambil belajar,” ucapnya antusias.

Menurut Gibran, ia dan teman-temannya sangat antusias untuk belajar kembali dengan Mimo, mereka ingin Mimo kembali dan belajar menggunakan kembali menggunakan mikroskop.

Tak kalah dengan Gibran, Fikri, siswa kelas 6 SD Negeri Sidotopo Wetan V, mengaku terkejut setelah melihat hasil pengamatan sampel air Kali Tebu.

“Tadi aku ambil sampel air Kali Tebu depan sekolahku, kelihatannya bersih, ternyata setelah dilihat di bawah mikroskop banyak sampah mikroplastik dan kotoran-kotoran karena orang-orang masih banyak yang buang sampah di Kali Tebu,” sahutnya.

Pengamatan mikroplastik memberikan pengalaman baru bagi siswa. Air Kali Tebu yang secara kasatmata terlihat bersih ternyata dapat mengandung partikel mikroplastik yang hanya dapat terlihat dengan bantuan mikroskop. Para siswa juga diperkenalkan bahwa pencemaran plastik tidak hanya ditemukan di air sungai, tetapi dapat ditemukan di lingkungan sekitar, termasuk pada daun dan bahkan berpotensi menempel pada tubuh manusia.

Prigi memaparkan kegiatan Mimo Blusukan di Kali Tebu menjadi salah satu upaya untuk mendekatkan edukasi mikroplastik kepada masyarakat, khususnya anak-anak. “Melalui pembelajaran langsung, siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai bahaya pencemaran plastik, tetapi juga memahami bahwa perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana sehari-hari,” tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....