Gus Kikin Kejar Pembentukan Struktur Baru PBNU
- 31 Agt 2026 20:21 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Jombang – Ketua Umum PBNU terpilih KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin mengejar percepatan pembentukan struktur kepengurusan baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031. Meski tim formatur diberi waktu maksimal satu bulan, Gus Kikin membuka peluang struktur kepengurusan rampung lebih cepat agar organisasi segera bekerja.
Gus Kikin mengatakan, pembentukan struktur menjadi tahapan awal yang harus diselesaikan setelah Muktamar ke-35 NU. Menurutnya, program kerja organisasi tidak dapat berjalan optimal sebelum susunan kepengurusan terbentuk.
“Programnya tetap satu bulan. Kita isi dulu organisasinya. Kalau itu belum selesai, bagaimana kita mau bekerja,” ujarnya, Senin, 31 Agustus 2026.
Ia menyebut batas waktu satu bulan merupakan target maksimal yang diberikan kepada tim formatur. Karena itu, proses penyusunan struktur masih memungkinkan dilakukan dalam waktu yang lebih singkat. “Ya, nanti kita lihat. Itu kan target maksimal satu bulan. Karena memang harus cepat, seharusnya bisa dipercepat,” kata Gus Kikin.
Sebelumnya, Pimpinan Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU Prof Ganefri menjelaskan, setelah Ketua Umum PBNU ditetapkan, proses dilanjutkan dengan pelaksanaan formatur untuk menyusun struktur kepengurusan.
Tim formatur mendapat mandat membentuk kepengurusan dalam waktu paling lama satu bulan. Tim tersebut terdiri atas H Abdul Qahar Yelipele dari Papua Pegunungan, H Amar Manaf dari Maluku, Prof Mansur Ma'shum dari Nusa Tenggara Barat, dan KH Muhammad Wildan Salman dari Kalimantan Selatan. Formatur lainnya yakni KH Abdul Ghaffar Rozin dari Jawa Tengah, Prof Ganefri yang mewakili Sumatra, serta KH Abdul Matin Djawahir dari Tuban sebagai tuan rumah Muktamar.
Dalam proses penyusunan struktur, Gus Kikin memastikan potensi kader NU tetap akan diakomodasi. Ia menyebut kandidat lain yang sebelumnya masuk dalam tabulasi pencalonan Ketua Umum PBNU juga berpeluang diberi ruang untuk berkontribusi.
“Tadi yang ada itu akan kita coba wadahi. Potensi-potensi yang dimiliki memang harus kita optimalkan,” katanya.
Gus Kikin juga membuka kemungkinan membangun sinergi dengan berbagai tokoh dan elemen di luar struktur PBNU, termasuk KH Ma'ruf Amin dan unsur politik. Menurutnya, keterbukaan merupakan bagian dari karakter NU. “Betul. NU memang didirikan sebagai organisasi yang sangat inklusif. Jadi, kita kembali lagi pada prinsip itu,” jelasnya.
Selain penataan struktur organisasi, Gus Kikin menyebut pengembangan sumber daya manusia dan penguatan ekonomi menjadi agenda yang akan didorong dalam kepemimpinannya. Ia juga menyoroti pentingnya optimalisasi pengelolaan tanah yang dimiliki NU.
“Pembangunan SDM itu ada dalam Qanun Asasi. Semuanya nanti kita pertimbangkan agar bisa berjalan dengan baik. SDM harus diperkuat, ekonomi juga harus dioptimalkan, termasuk pengelolaan tanah yang dimiliki NU,” ujarnya.
Menurut Gus Kikin, Qanun Asasi karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari menunjukkan bahwa NU memiliki karakter terbuka dan inklusif. Prinsip tersebut, kata dia, perlu diterapkan dalam membangun persatuan di tubuh organisasi.
“Di buku itu terlihat NU sangat inklusif dan terbuka. Ada aturan mengenai bagaimana seseorang masuk ke dalam NU. Dari sana, kita harus bersatu, karena kebersamaan merupakan inti dari NU,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....