Santri Tebuireng Didorong Isi Kemerdekaan dengan Ilmu dan Pengabdian

  • 18 Agt 2026 23:27 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Jombang – Santri Pesantren Tebuireng didorong mengisi kemerdekaan melalui pengabdian kepada masyarakat dan bangsa. Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, menilai ilmu yang diperoleh di pesantren harus diwujudkan dalam kontribusi nyata, sekaligus menjadi sarana memperkuat persatuan dan kemaslahatan umat.

Gus Kikin mengatakan, kemerdekaan Indonesia merupakan hasil perjuangan panjang para ulama dan pejuang yang mengorbankan tenaga, harta, bahkan nyawa. Karena itu, nilai perjuangan tersebut perlu diteruskan oleh generasi santri dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, kemerdekaan Indonesia tidak diberikan oleh penjajah, melainkan diperoleh melalui perjuangan bangsa sendiri. Hal tersebut menjadi bagian penting dari sejarah yang perlu dipahami generasi penerus. “Indonesia meraih kemerdekaan melalui perjuangannya sendiri. Kemerdekaan itu menjadi anugerah dari Allah SWT setelah bangsa ini berjuang, bukan pemberian dari pihak penjajah,” kata Gus Kikin, Selasa, 18 Agustus 2026.

Ia menilai santri memiliki posisi strategis untuk melanjutkan semangat perjuangan tersebut. Penguasaan ilmu di pesantren, kata dia, harus diarahkan untuk menyatukan masyarakat dan menghadirkan manfaat yang lebih luas.

Gus Kikin juga mengingatkan keteladanan Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Salah satu warisan perjuangan tersebut tercermin melalui Resolusi Jihad yang menyerukan umat Islam untuk melawan upaya penjajahan.

“Resolusi Jihad merupakan seruan bagi umat Islam, terutama mereka yang berada dalam jarak 94 kilometer dari lokasi peristiwa, untuk turut berjuang mengusir penjajah,” ujarnya.

Sementara itu, Mudir II Pesantren Tebuireng Muhammad Hasyim Asy’ari menilai pengisian kemerdekaan bagi santri tidak cukup diwujudkan melalui pemahaman sejarah. Kemerdekaan juga perlu diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan dengan tetap berpegang pada ilmu dan tanggung jawab.

Gus Hasyim menjelaskan, pemikiran ulama Tunisia Ibnu Asyur mengenalkan empat dimensi kemerdekaan yang relevan diterapkan santri. Keempatnya mencakup kebebasan dalam berkeyakinan, menuntut ilmu, menyampaikan pendapat, dan berkarya.

Kebebasan berkeyakinan atau hurriyyatul i'tiqad diarahkan untuk menjaga ketauhidan dan tidak menjadikan kekuasaan maupun kepentingan dunia sebagai tujuan utama. Sementara kebebasan menuntut ilmu atau hurriyyatul 'ilmi wat-ta'allum menuntut santri terus belajar dan mengembangkan pengetahuan.

Untuk kebebasan berpendapat atau hurriyyatul aqwal, Gus Hasyim mengingatkan pentingnya etika dan tanggung jawab. Setiap pendapat harus disampaikan berdasarkan ilmu dan dipertimbangkan dampaknya.

Sedangkan kebebasan berkarya atau hurriyyatul 'amal memberikan kesempatan bagi santri untuk berkreasi dan berkontribusi sesuai bidang masing-masing, tanpa meninggalkan nilai-nilai kepesantrenan.

“Kalau empat dimensi kemerdekaan tersebut dapat diwujudkan dalam diri para santri, saya optimistis mereka akan tumbuh menjadi generasi yang hebat dan mampu berkontribusi sesuai keahliannya dalam menyongsong Indonesia Emas,” ucapnya.

Dorongan tersebut menempatkan pengabdian sebagai salah satu bentuk nyata santri dalam mengisi kemerdekaan. Ilmu, persatuan, kebebasan yang bertanggung jawab, dan karya diharapkan menjadi bekal santri untuk memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus meneruskan semangat perjuangan para ulama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....