Kediri Kejar Target Zero Anak Tidak Sekolah

  • 29 Agt 2026 16:25 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri – Pemerintah Kota Kediri mempercepat penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) untuk mengejar target zero ATS di wilayah setempat. Upaya tersebut diawali dengan memastikan validitas data, setelah ditemukan ketidaksesuaian antara 2.100 anak yang tercatat dalam data Kemendikdasmen dengan kondisi sebenarnya di lapangan.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Mandung Sulaksono, mengatakan penanganan ATS perlu dilakukan secara menyeluruh agar anak yang masih berada di luar sistem pendidikan dapat kembali memperoleh akses belajar. Menurutnya, pemerintah juga menindaklanjuti arahan Wali Kota Kediri dengan menyusun langkah penanganan berdasarkan tugas masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD). Langkah tersebut mencakup verifikasi data hingga menentukan bentuk intervensi yang sesuai dengan kondisi setiap anak.

“Penanganan ATS harus dilakukan sampai tuntas agar mereka dapat kembali mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan,” ujar Mandung, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Ia mencontohkan masih adanya persoalan akurasi data di sejumlah wilayah. Di Kelurahan Lirboyo, misalnya, hampir 800 anak tercatat sebagai ATS. Namun, setelah dilakukan pengecekan awal, jumlah anak yang benar-benar merupakan warga setempat tidak lebih dari 50 orang.

“Data yang tercatat hampir 800 anak, tetapi setelah dilihat kembali, yang benar-benar warga Kelurahan Lirboyo jumlahnya tidak lebih dari 50 anak. Karena itu, data tersebut perlu dikonfirmasi dan diverifikasi agar sesuai dengan kondisi sebenarnya,” ujarnya.

Mandung menyebut terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan anak berhenti atau tidak melanjutkan sekolah. Di antaranya persoalan ekonomi, tuntutan untuk bekerja, masalah keluarga, serta keterbatasan akibat disabilitas yang membuat sebagian anak kesulitan mengikuti pendidikan formal.

Untuk menjangkau anak-anak dengan kondisi tersebut, Pemkot Kediri menyiapkan jalur pendidikan nonformal melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Program Paket A, B, dan C tersedia dengan sistem belajar yang lebih fleksibel. Bagi anak yang mengalami kendala untuk mendatangi lembaga pendidikan, mekanisme pembelajaran dapat disesuaikan.

Tutor dapat mendatangi lokasi peserta didik, sementara penjemputan juga disiapkan agar kendala akses tidak menjadi alasan anak kembali kehilangan kesempatan belajar. “Pendekatan yang kami gunakan menyesuaikan kondisi masing-masing anak. Jika mereka tidak memungkinkan datang ke lembaga pendidikan, penjemputan dapat dilakukan atau tutor dari PKBM yang datang langsung,” kata Mandung.

Selain pendidikan kesetaraan, peserta didik juga dapat memperoleh keterampilan seperti menjahit, memasak, tata rias, dan potong rambut. Keterampilan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kemandirian sekaligus membuka peluang memperoleh penghasilan.

Pemkot Kediri menargetkan proses verifikasi menghasilkan data ATS yang lebih akurat sehingga penanganan dapat dilakukan secara tepat sasaran. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan seluruh anak usia sekolah tetap mendapatkan hak atas pendidikan dan mendorong terwujudnya Kota Kediri zero ATS.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....