Minat Relawan Menurun, PMI Kediri Hadapi Tantangan Regenerasi
- 19 Sep 2026 17:59 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri – PMI Kabupaten Kediri menilai menurunnya minat masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan kerelawanan menjadi tantangan dalam menyiapkan regenerasi relawan. Kondisi tersebut terlihat dari masih terbatasnya keterlibatan generasi muda dalam kegiatan kepalangmerahan.
Kepala Markas PMI Kabupaten Kediri, Triatmono Wahyoe Supriadi mengatakan, PMI telah beberapa kali membuka kesempatan bagi masyarakat, termasuk generasi muda, untuk bergabung dalam kegiatan kerelawanan. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan meningkatnya jumlah pendaftar.
Menurut Triatmono, salah satu tantangan yang dihadapi adalah semakin kuatnya kecenderungan individualisme di tengah masyarakat. Kondisi itu dinilai membuat kepedulian terhadap sesama perlu kembali ditanamkan sejak usia dini.
“Sekarang manusia semakin individual dan lebih banyak mementingkan diri sendiri. Padahal, salah satu prinsip dalam kehidupan adalah kemanusiaan. Karena itu, kami berupaya menanamkan jiwa kemanusiaan sejak dini kepada anak-anak,” ujar Triatmono, Sabtu, 19 September 2026.
Ia menjelaskan, pembentukan kepedulian sejak dini diharapkan dapat menjadi dasar bagi generasi muda untuk terlibat dalam kegiatan kemanusiaan ketika memasuki usia yang lebih dewasa. Keterlibatan tersebut dapat diwujudkan melalui donor darah sukarela maupun menjadi relawan dalam penanganan bencana.
Triatmono mengakui, upaya merekrut relawan dari masyarakat umum masih menghadapi kendala. PMI Kabupaten Kediri pernah membuka pendaftaran secara daring, tetapi sebagian calon peserta mengundurkan diri setelah diminta melengkapi formulir pendaftaran.
“Untuk mencari relawan sekarang memang betul-betul sulit. Kami pernah mencoba membuka pendaftaran secara online, tetapi setelah diminta mengisi formulir, ada yang kemudian mengundurkan diri,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan kembali nilai kepedulian sosial di tengah masyarakat. Tidak hanya kemampuan teknis, seorang relawan juga membutuhkan rasa kemanusiaan, kepedulian terhadap orang lain, rasa hormat, dan kedisiplinan.
Di sisi lain, Triatmono menyebut keterlibatan pelajar dalam kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) menunjukkan perkembangan. Namun, PMI masih menemukan tantangan dalam memperluas pemahaman pelajar mengenai ruang lingkup kegiatan kepalangmerahan.
“Kalau ditanya meningkat, memang meningkat yang bergabung di ekstrakurikuler PMR. Tetapi persoalannya bukan hanya jumlah. Kami melihat peserta PMR masih didominasi perempuan,” ucapnya.
Ia menilai salah satu penyebabnya adalah masih adanya anggapan bahwa kegiatan PMI atau PMR hanya berkaitan dengan bidang kesehatan dan keperawatan. Padahal, kegiatan kepalangmerahan juga mencakup berbagai aktivitas kemanusiaan yang membutuhkan kesiapan fisik dan mental.
“Banyak yang memahami PMI atau PMR hanya seperti kegiatan perawat atau kesehatan. Padahal, ada kegiatan lain yang juga membutuhkan tenaga, misalnya menjadi relawan kebencanaan yang harus berada di lapangan, menghadapi kondisi panas, bahkan dalam situasi tertentu harus bekerja hingga tidak tidur,” katanya.
Pemahaman mengenai cakupan kegiatan tersebut, lanjut Triatmono, perlu diberikan sejak pelajar mulai mengenal kegiatan kepalangmerahan. Dengan demikian, mereka dapat memahami bahwa menjadi relawan tidak hanya berkaitan dengan satu bidang tertentu, tetapi juga membutuhkan kesiapan untuk membantu masyarakat dalam berbagai situasi.
Keterlibatan generasi muda dinilai penting untuk mendukung berbagai pelayanan kemanusiaan, mulai dari donor darah hingga kegiatan penanggulangan bencana yang membutuhkan relawan di lapangan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....