Merawat Kerukunan di Era Digital, Moderasi Beragama pada Polarisasi Perbedaan
- 15 Agt 2026 04:23 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri – Dalam era digital yang sangat masif seperti saat ini, merawat kerukunan antar umat beragama sangatlah penting untuk diterapkan. Moderasi beragama menjadi penengah terhadap terjadinya polarisasi perbedaan yang ada, sehingga perpecahan antar bangsa bisa dicegah.
Merawat kerukunan tidak mudah seperti membalikkan kedua telapak tangan, butuh pemahaman ilmu yang baik agar tidak mudah terjerumus pada hal informasi yang berkembang. Polarisasi perbedaan persepsi di tengah informasi digital sangat besar, maka dari itu butuh penguatan diri dengan mengisi ilmu dari berbagai sumber agar tidak tertinggal informasi.
Dalam Dialog Ruang Publik Moderasi Beragam RRI Kediri, Jumat, 14 Agustus 2026, Dosen Universitas Hasyim Asy’ari Masrokhin, Jombang, menjelaskan kondisi masyarakat di tengah semakin kuatnya arus informasi dan interaksi di ruang digital. “kondisi saat ini dengan begitu cepatnya, banyaknya, maraknya media sosial dengan fasilitas gadget yang bagus, internet yang cepat dapat dengan mudah dikonsumsi oleh masyarakat kita. Jika di simak secara seksama lebih berbahaya orang tua dari pada anak-anak ketika mengkonsumsi media sosial,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan polarisasi di ruang digital sering kali muncul karena perbedaan pandangan keagamaan, sosial, maupun politik. Perbedaan yang ada menjadi sesuatu yang wajar justru mudah berkembang karena mereka ingin saling mengenal, saling mengenal ini pasti karena ada sesuatu hal yang tidak diketahui sehingga perbedaan ini mereka merasa bahwa dunia ini seragam.
Posisi moderasi agama ditengah derasnya informasi digital sangat penting untuk hadir ditengah perbedaan pandangan. Jika tidak ada moderasi agama bangsa ini akan terpecah belah karena tidak memiliki dasar keilmuan yang cukup.
“Moderasi beragama merupakan sebagai penengah diantara kedua belah pihak yang berselisih sudut pandang antar berbeda agama. Agama islam memiliki akidah yang tidak bisa diganggu gugat dalam toleransi agama,” ucapnya.
Masyarakat harus pandai memilah konten informasi keagamaan, karena tidak dipungkiri dengan adanya media sosial sangat banyak konten keagamaan yang dapat menumbuhkan sikap intoleran. “Masyarakat diminta paham betul dengan ilmu dasar keagamaan, jangan banyak terpengaruh pada akun media sosial yang terverikasi dengan gelar ustaz atau ustazah. Algoritma pada media sosial tidak mengenal sanat keilmuan. Untuk membedakan mana ceramah keagamaan yang murni sebuah keilmuan atau pengetahuan agama dengan yang tidak. Polesan media, teknologi, editing, itu bagi mereka yang minim memiliki ilmu pengetahuan keagamaan dan teknologi yang awam itu sulit untuk membedakan mana yang asli dan yang tidak.” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....