Harga Melejit, Timun Naik Kelas Jadi Sayuran Sultan Viral
- 12 Agt 2026 12:46 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Timun Naik Kelas Jadi Sayuran Sultan Viral setelah Harganya Melejit Tinggi
- Meroketnya harga timun dikarenakan faktor cuaca kemarau ekstrem yang melanda sejumlah wilayah sentra produksi
RRI.CO.ID, Kediri – Komoditas sayuran yang biasanya dijual dengan harga murah meriah kini mendadak naik kelas karena mengalami lonjakan harga sangat drastis di seluruh pasar tradisional Kota Kediri, Jawa Timur. Fenomena tidak biasa ini langsung memicu reaksi sejumlah pedagang yang menyebut mentimun sebagai ‘sayuran sultan’ yang baru dan viral.
“Timun sekarang jadi sayur sultan karena harganya mendunia. Biasanya per kilo cuma Rp 5.000, kalaupun naik drastis kisaran Rp 12.000. Sekarang sudah Rp 20.000 dan viral,” kata Rini, salah satu pemilik lapak sayur mayur dan bumbu dapur di Pasar Setonobetek, Kota Kediri, Rabu, 12 Agustus 2026.
Banyak konsumen yang terpaksa mengurangi porsi pembelian mereka karena enggan isi dompet kian terkuras untuk sekadar belanja sayuran hijau. Menurut Rini yang sudah hampir tiga dekade berjualan di Pasar Setonobetek, penyebab meroketnya harga timun ini tidak lain adalah faktor cuaca kemarau ekstrem yang melanda sejumlah wilayah sentra produksi.
“Saya selalu sarankan konsumen untuk tidak beli timun terlalu banyak. Selain mahal, barangnya cuma sedikit karena pasokan minim akibat kemarau panjang. Naiknya dua kali lipat lebih. Kalau begini terus kasihan pembelinya juga,” ujar Rini. Ditambahkannya, cuaca panas memicu kekeringan sehingga mentimun banyak yang mati sebelum dipanen.
Pasokan yang terjun bebas di tingkat tengkulak secara otomatis membuat hukum pasar berlaku hingga memicu kelangkaan dan melambungkan harga mentimun di tingkat eceran. Dampak paling nyata dari mahalnya harga sayuran sultan dadakan ini sangat dirasakan oleh para pedagang makanan seperti bebek goreng, pecel lele, ayam geprek, nasi goreng, dan lain-lain.
“Untuk lalapan, potongan timun saya perkecil. Tapi kalau begini terus, terpaksa saya ganti timun dengan sayuran lain seperti kubis atau selada,” ucap Badrus, salah satu pedagang aneka menu lalapan ayam, bebek, lele, burung dara, tahu, dan tempe goreng saat berbelanja kebutuhan jualannya di Pasar Setonobetek pada Rabu siang.
Bagi masyarakat, fenomena viral timun yang mendadak menjelma menjadi sayuran sultan ini menjadi pengingat betapa rentannya fluktuasi harga pangan lokal terhadap perubahan iklim global. Untuk sementara waktu, menikmati segarnya potongan timun tampaknya harus menjadi sebuah kemewahan tersendiri di meja makan sembari menunggu harga kembali normal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....