Hari Konservasi Alam 2026, Warga Kediri Diajak Tingkatkan Kepedulian Lingkungan
- 11 Agt 2026 17:04 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional 2026 menjadi momentum bagi masyarakat di Kabupaten Kediri untuk meningkatkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan. Aktivis lingkungan mengajak masyarakat tidak hanya memperingati konservasi secara seremonial, tetapi juga mulai melakukan langkah nyata dari lingkungan sekitar.
Ketua Yayasan Hijau Daun Mandiri, Endang Pertiwi, mengatakan kepedulian terhadap lingkungan perlu dibangun secara berkelanjutan karena perubahan kondisi bumi berlangsung semakin cepat. Menurutnya, masyarakat perlu menyadari bahwa upaya menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
“Perjuangan kami sejak awal memang ingin mengubah kondisi lingkungan yang sekarang cukup memprihatinkan. Kami mulai dari lingkungan sekitar dengan memperjuangkan iklim mikro, salah satunya melalui penanaman. Ketika kawasan lebih hijau, masyarakat bisa merasakan perbedaannya dan diharapkan ikut terinspirasi melakukan hal yang sama,” katanya, Selasa, 11 Agustus 2026.
Endang menilai persoalan tersebut semakin penting di tengah perubahan suhu yang berlangsung cepat. Kondisi cuaca yang semakin panas, menurutnya, menjadi salah satu alasan masyarakat perlu memperbanyak vegetasi dan menjaga ruang terbuka hijau. “Perubahan iklim ini sangat cepat. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa lingkungan kita semakin panas dan perlu segera direspons,” jelasnya.
Selain penghijauan, Yayasan Hijau Daun Mandiri juga mendorong konservasi melalui pengelolaan sampah. Endang menyebut kebiasaan membuang sampah ke lahan kosong maupun sungai masih menjadi persoalan yang perlu ditangani bersama.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengembangkan bank sampah. Masyarakat didorong untuk membawa sampah yang masih memiliki nilai ekonomi ke bank sampah sehingga tidak berakhir di lingkungan maupun bantaran sungai, “Solusinya salah satunya melalui bank sampah. Sampah yang sebelumnya dibuang ke lahan kosong atau sungai bisa dibawa ke bank sampah, kemudian ditabung dan dikonversikan menjadi nilai ekonomis, termasuk melalui tabungan emas,” ujar Endang.
Upaya pengurangan sampah juga dilakukan melalui pengembangan konsep Toko Minim Sampah (ToMS). Melalui konsep tersebut, masyarakat didorong menggunakan wadah yang dapat digunakan kembali sehingga penggunaan kemasan sekali pakai dapat dikurangi.
“Di ToMS, masyarakat bisa membawa kembali wadah yang dapat digunakan ulang ketika membeli kebutuhan seperti gula atau minyak goreng. Pembayarannya juga dapat dikaitkan dengan tabungan sampah yang dimiliki masyarakat. Ini bagian dari upaya menjaga lingkungan secara berkelanjutan,” jelas Endang.
Menurut Endang, upaya konservasi juga dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai komunitas, generasi muda, dan dinas terkait. Kegiatan tersebut mencakup penyelamatan sumber mata air di lereng Gunung Wilis dan Gunung Kelud yang telah dilakukan sejak sebelum 2010 silam.
Selain sumber mata air, kegiatan konservasi dilakukan dengan membersihkan sungai dari sampah dan menanami pohon di bantaran sungai. Penanaman tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kondisi bantaran sekaligus mengurangi risiko erosi dan longsor.
Endang juga menyoroti persoalan sampah di kawasan hutan yang mengalami perubahan fungsi, termasuk kawasan yang dimanfaatkan untuk kegiatan usaha. “Persoalannya bukan hanya sampah di sungai, tetapi juga sampah di kawasan hutan. Ada yang dibuang ke jurang, padahal di bawahnya terdapat sumber mata air yang digunakan masyarakat. Karena itu, kami terus melakukan pendekatan, pendampingan, edukasi, dan sosialisasi secara berkelanjutan,” tuturnya.
Ia menekankan generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Menurutnya, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk memastikan kondisi bumi tidak semakin rusak ketika diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Bumi kita hanya satu. Generasi muda yang akan memegang tongkat estafet berikutnya. Jangan sampai ketika tongkat itu diberikan kepada anak dan cucu, kondisi bumi justru semakin rusak. Karena itu, mari mulai bergerak, dimulai dari lingkungan masing-masing,” ucap Endang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....