Paskomnas: Indonesia Ranking 1 Food Loss
- 29 Jul 2026 20:42 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri- Direktur Pasar Komoditas Nasional (Paskomnas), Soekam Parwadi, kepada RRI, Rabu, 29 Juli 2026, menyebut Indonesia berada di posisi ranking pertama terhadap permasalah food loss. Bukan sekedar kehilangan jumlah dan mutu bahan pangan, tetapi lebih dari itu adalah tentang rantai pasok yang tidak pernah tepat.
"Indonesia itu rangking 1. Food loss yang terjadi di Indonesia membuat kerugian tidak hanya dirasakan petani tetapi juga pasar. Jika terjadi dalam jangka waktu lama dan terus menerus bukan tidak mungkin berdampak pada kerugian negara. Kalau rakyat rugi, ekonomi melemah, susah bayar pajak, negara ikut terdampak," kata Soekam.
Soekam menyebut, harga jual bahan pangan berpengaruh pada daya serap pasar. Pasar induk harus mendata kondisi lapangan, supaya pasokan yang masuk tidak berlebihan sehingga beresiko pada pembuangan bahan pangan secara sia-sia. Menurutnya, tidak banyak pasar induk yang memiliki gudang penyimpanan (cold storage), hal ini menjadikan pasokan petani ke pasar tidak dapat disimpan dalam jangka panjang.
"Kalau ditelusuri ada 50-80 ton bahan pangan yang mengalami food loss di pasar. Kita butuh cold storage tapi tidak semua pasar punya. Kalau buat sendiri mahal harganya, gk semua orang mampu. Resikonya ya dibuang, kalau ditimbun lama tidak semua bahan pokok bisa bertahan dan terjamin kualitasnya. Konsumen bisa lari," ucap Soekam.
Permasalahan food loss tidak hanya berada pada tingkat pasar. Food loss juga terjadi apabila panen tidak tepat waktu sehingga kadar mutu rendah, alat panen tidak sesuai standart, dna tidka terseidanya packing house di sekitar area tani. Kondisi ini diperparah dengan sulitnya akses usaha tani. Alhasil, sebelum sampai di tingkat pasar, banyak bahan pokok yang sudah rusak dan tidak layak jual.
"Petani hanya bisa pasrah. Jangan dianggap sepele. Rakyat kecil menderita, negara bisa rugi kalau sumber pangan tidak tersedia optimal. Apalagi kalau harga jual di tinggal petani kecil. Ketahanan pangan kita jadi taruhannya. Harus banyak perbaikan di berbagai hal, supaya keseimbangan pangan dan terget swasembada bisa terpenuhi," ujarnya.
Menurut data WRI Indonesia, kerugian yang disebabkan Food Loss sangat besar. Secara global, sekitar 14% makanan yang diproduksi, hilang pada titik pertanian dan penjualan. Melansir dari Laporan Kajian Food Loss and Waste di Indonesia pada tahun 2021, hasil riset kolaborasi Kementerian PPN/Bappenas, Waste4Change, dan World Resource Institute memproyeksi nilai kehilangan ekonomi di tahap food loss (pangan yang terbuang pada tahap produksi, pascapanen/penyimpanan, dan pemrosesan/pengemasan) sekitar Rp106 triliun sampai Rp205 triliun per tahun.
Berdasarkan data FAO 2023, food loss di Indonesia diperkirakan mencapai 12 juta ton lebih per tahun. Pada komoditas padi, susut pascapanen mencapai 10,82 persen, dengan kontribusi terbesar berasal dari proses pengeringan dan penggilingan yang tidak optimal, yang umumnya masih dilakukan secara tradisional oleh penggilingan skala kecil (±83 persen kapasitas nasional).
Di sektor hortikultura, kehilangan hasil bahkan berada di kisaran 40–60 persen akibat lemahnya penanganan pascapanen seperti sortir atau grading yang tidak sesuai standar, penyimpanan tanpa pengendalian suhu, serta teknik pengeringan yang tidak memadai. Akibanya banyak hasil panen pertanian yang tidak tahan lama akhirnya rusak atau busuk, sehingga berujung jadi limbah.
Berbeda dengan di negara maju, proses pascapanen hasil tani, distribusi dan penyimpanannya, telah memanfaatkan teknologi. Sehingga potensi food loss sangat kecil bahkan bisa dibilang bisa diminimalisasi guna mencegah kerugian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....