Anomali Iklim Tingkatkan Risiko Serangan Hama Tembakau

  • 28 Jul 2026 22:29 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Jombang – Perubahan pola cuaca yang terjadi selama musim tanam tahun ini meningkatkan risiko serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada komoditas tembakau di Kabupaten Jombang. Kondisi tersebut mendorong petani untuk memperkuat langkah antisipasi agar produktivitas dan kualitas hasil panen tetap terjaga di tengah anomali iklim.

Kabupaten Jombang menjadi salah satu daerah dengan areal tanam tembakau yang terus bertambah. Pada 2026, luas tanam tembakau tercatat mencapai sekitar 6.327,7 hektare, tersebar di sejumlah wilayah sentra produksi, khususnya di kawasan utara Sungai Brantas.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Moch. Rony, mengatakan perubahan distribusi curah hujan, suhu udara yang meningkat, serta kelembapan yang tidak menentu menjadi faktor yang memicu berkembangnya hama dan penyakit tanaman. Menurutnya, kondisi tersebut membuat petani tidak bisa lagi mengandalkan pola tanam berdasarkan pengalaman musim-musim sebelumnya.

"Fenomena anomali iklim memang tidak bisa kita hindari. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi dampaknya melalui budidaya yang lebih adaptif, pengamatan tanaman secara rutin, dan penerapan Pengendalian Hama Terpadu. Petani harus menjadi pihak pertama yang mampu mengenali perubahan pada tanamannya sebelum serangan OPT berkembang lebih luas," ujar Rony, Selasa, 28 Juli 2026.

Ia menjelaskan, keberhasilan budidaya tembakau saat ini tidak hanya ditentukan oleh teknik penanaman maupun pemupukan. Kemampuan petani membaca kondisi iklim dan mendeteksi gejala awal serangan hama justru menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas lahan.

Menurut Rony, pemantauan kondisi tanaman sebaiknya dilakukan secara berkala agar gejala serangan dapat diketahui sejak dini. Dengan demikian, tindakan pengendalian bisa dilakukan lebih cepat sebelum menimbulkan kerugian yang lebih besar.

"Pengendalian harus dilakukan sejak awal. Jangan menunggu serangan meluas karena dampaknya bisa memengaruhi hasil panen. Pengamatan lapangan secara rutin menjadi kunci agar tindakan pengendalian lebih efektif," katanya.

Selain itu, petani juga diimbau menerapkan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan mengutamakan metode budidaya yang ramah lingkungan. Penggunaan pestisida, menurut Rony, sebaiknya menjadi pilihan terakhir dan harus memperhatikan prinsip enam tepat, yakni tepat sasaran, jenis, dosis, waktu, cara, dan mutu.

Disperta juga mendorong petani menyesuaikan waktu tanam dengan perkembangan prakiraan cuaca, memperbaiki sistem drainase lahan, menjaga keseimbangan pemupukan, serta memanfaatkan benih yang sehat dan berkualitas. Langkah tersebut dinilai mampu mengurangi kerentanan tanaman terhadap serangan hama maupun penyakit.

Di sisi lain, koordinasi antara petani, penyuluh pertanian, dan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) juga dinilai penting untuk mempercepat pelaporan apabila ditemukan gejala serangan di lapangan. Upaya deteksi dini diharapkan dapat mencegah ledakan OPT yang berpotensi menurunkan produksi tembakau.

Dengan kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi, Dinas Pertanian Kabupaten Jombang meminta petani lebih adaptif dalam mengambil keputusan budidaya. Pendekatan berbasis informasi iklim dan pengamatan lapangan dinilai menjadi strategi yang lebih efektif dibanding hanya mengandalkan pengalaman musim tanam sebelumnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....