Serangan OPT di Jombang Masih Tinggi, Petani Diminta Waspada

  • 13 Jun 2026 14:30 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Jombang - Serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) di Kabupaten Jombang masih tergolong tinggi hingga pertengahan tahun 2026. Dinas Pertanian Kabupaten Jombang mengimbau para petani untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan hama dan penyakit tanaman padi, terutama di tengah kondisi cuaca yang berubah-ubah dan dinilai mendukung penyebaran OPT.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Jombang periode Januari hingga Mei 2026, total luas serangan OPT pada tanaman padi mencapai 123,8 hektare. Serangan tersebut terdiri dari berbagai jenis hama dan penyakit yang masih berpotensi memengaruhi produktivitas pertanian apabila tidak segera dikendalikan.

Penyakit hawar daun bakteri masih menjadi jenis OPT dengan luasan serangan terbesar, yakni mencapai 56,7 hektare. Selain itu, serangan penggerek batang tercatat seluas 25,4 hektare, wereng batang cokelat 17,7 hektare, penyakit tungro 14,1 hektare, serta serangan tikus mencapai 9,9 hektare.

Kepala Bidang Perlindungan, Pascapanen dan Pemasaran Hasil Pertanian Disperta Jombang, Ahmad Jani Masyhudi, mengatakan kondisi cuaca yang tidak stabil menjadi salah satu faktor yang mempercepat perkembangan hama maupun penyakit tanaman di lahan persawahan. "Perubahan cuaca yang terjadi saat ini membuat petani perlu lebih waspada. Walaupun beberapa jenis OPT mengalami penurunan, penggerek batang dan penyakit tungro justru menunjukkan peningkatan dibandingkan periode sebelumnya," ujar Jani, Sabtu, 13 Juni 2026.

Data Disperta menunjukkan luas serangan penggerek batang meningkat dari 23,2 hektare pada Januari-Mei 2025 menjadi 25,4 hektare pada periode yang sama tahun ini. Sementara itu, penyakit tungro yang sebelumnya belum ditemukan kini telah menyerang lahan pertanian seluas 14,1 hektare.

Sebaliknya, beberapa jenis organisme pengganggu tanaman mengalami penurunan cukup signifikan. Serangan hawar daun bakteri turun dari 138,5 hektare menjadi 56,7 hektare, wereng batang cokelat berkurang dari 54,2 hektare menjadi 17,7 hektare, sedangkan serangan tikus menurun dari 71,3 hektare menjadi 9,9 hektare.

Menurut Jani, wilayah dengan intensitas tanam padi yang tinggi memiliki risiko lebih besar mengalami serangan OPT karena siklus perkembangan hama berlangsung tanpa jeda. Beberapa kecamatan yang perlu meningkatkan kewaspadaan di antaranya Bareng, Ngoro, Mojowarno, dan Gudo.

"Daerah yang menanam padi hingga tiga kali dalam setahun memiliki peluang serangan lebih besar karena populasi hama dapat terus berkembang mengikuti siklus tanam yang berkelanjutan," katanya.

Untuk menekan perkembangan penggerek batang, Dinas Pertanian terus memperluas penggunaan pengendalian hayati melalui pemasangan pias trichogramma. Metode tersebut memanfaatkan musuh alami berupa tawon mikro yang menyerang telur penggerek batang sehingga dapat mengurangi potensi kerusakan tanaman.

Selain dinilai ramah lingkungan, metode tersebut juga lebih efisien dari sisi biaya produksi petani dibandingkan penggunaan pestisida kimia. Penerapannya telah dilakukan di sejumlah wilayah seperti Mojowarno, Perak, Jogoroto, dan Sumobito dengan hasil yang dinilai cukup efektif dalam menekan serangan hama.

Sementara itu, seorang petani asal Kecamatan Gudo, Kartiyono, mengaku serangan hama selama dua musim tanam terakhir menyebabkan hasil panennya menurun cukup signifikan sehingga berdampak pada pendapatan yang diterimanya. "Produksi panen saya menurun karena serangan hama yang terus muncul dalam dua musim terakhir. Kerugian yang saya alami diperkirakan sekitar Rp.5000.000 selama dua musim ini," ucap Kartiyono.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....