Masa MPLS, Penjangkauan Siswa Sekolah Rakyat Kediri Masih Berlanjut
- 26 Jul 2026 19:52 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri – Proses penjangkauan calon peserta didik Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi I Kabupaten Kediri masih terus berlangsung di Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027. Hal itu dilakukan karena Sekolah Rakyat menerapkan sistem multi entry-multi exit, sehingga siswa yang memenuhi kriteria tetap dapat bergabung meskipun kegiatan belajar sudah berjalan.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi I Kabupaten Kediri, Fadeli, mengatakan jumlah peserta didik yang ada saat ini masih bersifat sementara. Hingga 31 Juli 2026, Dinas Sosial bersama pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) masih melakukan penjangkauan terhadap anak-anak dari keluarga desil satu yang menjadi sasaran program tersebut.
"Jumlah peserta didik masih bisa berubah karena proses penjangkauan masih berlangsung. Sekolah Rakyat berbeda dengan sekolah reguler. Kami menggunakan sistem multi entry dan multi exit, sehingga peserta didik dapat bergabung meskipun tahun ajaran sudah berjalan," ujar Fadeli, Minggu, 26 Juli 2026.
Pada tahun ajaran 2026/2027, Sekolah Rakyat Terintegrasi I Kabupaten Kediri telah menerima siswa sebanyak 248 peserta didik. Namun hingga awal pelaksanaan MPLS, kuota jenjang Sekolah Dasar (SD) masih belum terpenuhi. Dari target 90 siswa, baru 23 siswa yang telah bergabung. Sementara kekurangan kuota tersebut untuk sementara dialihkan masing-masing 30 kursi ke jenjang SMP dan SMA sembari menunggu hasil penjangkauan lanjutan.
"Kami masih melakukan jemput bola melalui pendataan dan pendekatan kepada anak-anak yang menjadi sasaran agar kuota jenjang SD dapat terpenuhi," kata Fadeli.
Sementara itu, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menegaskan pemerintah daerah akan terus melakukan penjangkauan terhadap calon peserta didik yang memenuhi kriteria Sekolah Rakyat. Menurutnya, pendekatan secara persuasif menjadi langkah penting untuk mengajak anak-anak dari keluarga sasaran agar kembali mengenyam pendidikan.
"Kami akan terus melakukan jemput bola karena sistem di Sekolah Rakyat memang menggunakan mekanisme penjangkauan, bukan pendaftaran. Nanti akan kami lihat kembali anak-anak dari keluarga desil satu sampai empat yang belum bersekolah, baik karena putus sekolah, belum melanjutkan pendidikan, maupun karena orang tuanya masih belum bersedia. Kondisi seperti itu perlu pendekatan secara persuasif. Harapannya kuota bisa terpenuhi, tetapi yang lebih penting lagi adalah memastikan Sekolah Rakyat berjalan sesuai harapan Bapak Presiden," ujar Mas Dhito.
Selain melanjutkan penjangkauan siswa, pihak sekolah juga menerapkan pola pendampingan intensif selama MPLS guna membantu peserta didik beradaptasi dengan lingkungan asrama. Seluruh aktivitas siswa dipastikan mendapat pendampingan agar mereka lebih cepat menyesuaikan diri dan tidak mengalami kesulitan pada masa awal tinggal di asrama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....