Tren Belanja Berubah, Lapak Pakaian di Pasar Tradisional Sepi Pembeli
- 10 Jul 2026 10:37 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Tren Belanja Berubah, Lapak Pakaian di Pasar Tradisional Sepi Pembeli
- Hantaman gelombang digitalisasi modern terhadap eksistensi penjual pakaian di pasar tradisional benar-benar terjadi
RRI.CO.ID, Kediri – Lapak-lapak pakaian di sejumlah lorong Pasar Tradisional Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, kini nampak sepi tanpa adanya hiruk pikuk dan transaksi tawar menawar antara pembeli dan penjual. Hal ini dipicu pergeseran tren gaya belanja masyarakat yang beralih dari pola konvensional ke platform e-commerce dan live streaming
Puluhan lapak dengan beragam pilihan baju muslim, kaos, daster, pakaian dalam, dan lain-lain, terlihat hanya terpajang tanpa ada satu pun pembeli mendekati. Beberapa pedagang juga tampak duduk melamun, memainkan ponsel demi mengusir jenuh, bahkan tertidur pulas di antara tumpukan kain yang sebagian masih terbungkus plastik.
“Mau gimana lagi, zamannya sekarang serba online. Orang beli baju juga online. Dulu kalau musim libur sekolah atau akhir pekan, sampai kewalahan melayani pelanggan. Sekarang dapat satu pembeli saja rasanya seperti mukjizat,” kata Suhariyanti, salah satu pedagang pakaian yang sudah berjualan di Pasar Ngadiluwih sejak tahun 2001, Jum’at, 10 Juli 2026.
Menurut perempuan berhijab dengan dua orang cucu ini, omzet penjualan pakaiannya mulai berangsur menurun secara terus menerus terhitung sejak Pandemi Covid-19. “Dulu sempat optimis setelah wabah virus corona hilang, penjualan akan normal lagi seperti sebelumnya. Ternyata sama saja, bahkan makin sepi,” ujar Mbak Har, sapaan akrabnya.
Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa hantaman gelombang digitalisasi modern terhadap eksistensi penjual pakaian di pasar tradisional benar-benar terjadi. Banyaknya platform digital yang dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat manakala melakukan transaksi jual beli produk fashion, menjadikan mereka enggan berpanas-panasan ke pasar untuk membeli baju.
Sementara itu, Teodhora Ayu, pelaku bisnis fashion online shop asal Kota Kediri, ia berpendapat bahwa harga di toko baju online lebih terjangkau. “Selain praktis, harga olshop lebih murah karena yang menjual produsennya langsung. Promo ongkos kirim juga ada. Selain itu, sistemnya live shopping. Meski dari rumah, konsumen tetap bisa lihat detail bahan,” ucapnya.
Tren pergeseran transaksi jual beli non tunai yang menciptakan kemudahan pembayaran seperti fitur paylater dan transfer bank turut memberikan pengaruh signifikan hingga menjadikan pembeli beralih ke toko online. Menyikapi hal ini, pelatihan literasi digital dan pembuatan platform penjualan khusus dengan merangkul pedagang pasar tradisional harapannya bisa menjadi sebuah solusi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....