Seruan Masyayikh di Pembukaan Munas Konbes NU Tahun 2026 Kediri
- 20 Jun 2026 22:16 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Sejumlah masyayikh memberikan seruan pada saat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) Tahun 2026
RRI.CO.ID, Kediri - Sejumlah masyayikh Nahdlatul Ulama (NU) menyerukan pentingnya menjaga peran pesantren dan karakter keulamaan dalam pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri, Sabtu 20 Juni 2026.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), atau Gus Yahya, menyampaikan apresiasi kepada Pondok Pesantren Al-Falah Ploso yang telah menyediakan fasilitas penyelenggaraan Munas-Konbes NU 2026.
"Semoga seluruh keluarga besar Ponpes Al-Falah Ploso Mojo, Kediri terus mendapatkan keberkahan karena telah menjadi tempat berkumpul dan penyelenggaraan Munas-Konbes NU Tahun 2026. Kami berharap agenda ini menghasilkan keputusan yang bermanfaat bagi seluruh jam'iyah," ujar Gus Yahya.
Sementara itu, perwakilan masyayikh sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, atau Gus Kautsar, menyampaikan seruan para ulama yang hadir dalam Ramah Tamah Masyayikh NU.
Menurut Gus Kautsar, para masyayikh meminta agar Munas dan Konbes NU diselenggarakan secara bijaksana, hati-hati, dan bertanggung jawab. Mereka juga mengingatkan agar tidak ada pembahasan maupun keputusan yang berpotensi menggeser hubungan historis, kultural, dan spiritual antara NU, masyayikh, dan pondok pesantren.
Para masyayikh juga meminta agar syarat dan mekanisme pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) tetap berlandaskan kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, rekam jejak pengabdian, serta pengakuan keulamaan di lingkungan NU.
Mereka menolak usulan penambahan syarat calon anggota AHWA yang harus berasal dari unsur pengurus syuriyah dan berbasis representasi kewilayahan, serta meminta usulan perubahan aturan larangan rangkap jabatan politik dibatalkan.
Selain itu, para masyayikh berharap Muktamar NU 2026 dapat diselenggarakan di lingkungan pondok pesantren sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah, tradisi, dan mata rantai keilmuan yang menjadi fondasi utama Nahdlatul Ulama.
Dalam seruannya, para masyayikh juga mengajak seluruh peserta dan unsur NU untuk menjaga ketertiban, adab musyawarah, serta mengedepankan persatuan demi memperkuat khidmah organisasi bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....