Harga Bumbu Dapur Melonjak, Daya Beli Masyarakat Turun

  • 13 Jun 2026 14:11 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Jombang - Kenaikan harga sejumlah bumbu dapur di pasar tradisional Kabupaten Jombang mulai memengaruhi daya beli masyarakat. Dalam sepekan terakhir, berbagai komoditas pangan mengalami lonjakan harga yang cukup signifikan sehingga warga terpaksa menyesuaikan pola belanja kebutuhan rumah tangga.

Kondisi tersebut terlihat di sejumlah pasar tradisional, salah satunya Pasar Pon Jombang. Aktivitas jual beli yang biasanya ramai mulai mengalami penurunan karena banyak pembeli memilih mengurangi jumlah barang yang dibeli akibat harga yang terus meningkat.

Tidak hanya bumbu dapur, kenaikan juga terjadi pada sejumlah bahan pangan lain seperti minyak goreng dan sayuran. Pedagang mengaku hampir seluruh kebutuhan dapur mengalami penyesuaian harga dalam waktu yang relatif singkat sehingga berdampak pada penurunan omzet penjualan.

Salah seorang pedagang di Pasar Pon Jombang, Rukhiyatin, mengatakan harga bawang putih menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan paling tinggi dibandingkan pekan sebelumnya. "Bawang putih yang sebelumnya sekitar Rp27.000 per kilogram sekarang sudah Rp40.000 per kilogram. Bawang merah juga naik dari Rp30.000 menjadi Rp35.000 per kilogram," kata Rukhiyatin, Sabtu, 13 Juni 2026.

Menurutnya, kenaikan harga juga terjadi pada minyak goreng MinyaKita kemasan dua liter. Selain mengalami kenaikan harga jual, ketersediaan stok di pasaran juga mulai terbatas sehingga pedagang kesulitan memenuhi permintaan pembeli.

"MinyaKita dua liter sebelumnya Rp38.000 sekarang menjadi Rp42.000. Barangnya juga mulai sulit didapat karena pasokannya dibatasi," ujarnya.

Ia menambahkan, lonjakan harga turut terjadi pada komoditas cabai, buncis, dan wortel. Namun hingga kini para pedagang belum mengetahui secara pasti faktor yang menyebabkan kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok tersebut terjadi hampir bersamaan. Dampak kenaikan harga juga dirasakan masyarakat. Salah seorang warga Jombang, Liani Mustofiroh, mengaku harus mengurangi jumlah belanja agar pengeluaran rumah tangga tetap dapat disesuaikan dengan kondisi keuangan keluarga.

"Kalau harga terus naik seperti ini, kami terpaksa mengurangi belanja supaya pengeluaran tidak membengkak. Yang dibeli hanya kebutuhan yang benar-benar penting," ucap Liani.

Masyarakat berharap pemerintah dapat segera melakukan langkah stabilisasi harga dan memastikan distribusi bahan pangan berjalan lancar. Dengan pasokan yang kembali normal, diharapkan harga kebutuhan pokok dapat berangsur turun sehingga aktivitas ekonomi di pasar tradisional kembali bergairah dan daya beli masyarakat dapat pulih.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....