Anak Disabilitas Kediri Rentan Putus Sekolah dan Bullying
- 06 Jun 2026 20:38 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Anak berkebutuhan khusus (ABK) atau penyandang disabilitas di Kabupaten Kediri menjadi kelompok yang paling rentan mengalami putus sekolah. Selain faktor ekonomi keluarga, keterbatasan akses pendidikan inklusif hingga perundungan di lingkungan sekolah masih menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Guru Pembimbing Khusus (GPK) Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Moch. Syafi'i, mengatakan anak disabilitas membutuhkan dukungan yang lebih kuat dibandingkan siswa pada umumnya agar dapat bertahan dalam sistem pendidikan formal.
"Jika ekosistem pendukung di sekitar anak tidak berjalan dengan kuat, probabilitas anak-anak luar biasa ini untuk berhenti dari bangku sekolah formal akan semakin tinggi," ujar Syafi'i kepada RRI, Sabtu 6 Juni 2026
Menurutnya, kondisi ekonomi keluarga menjadi faktor yang paling menentukan keberlanjutan pendidikan anak disabilitas. Sebab, kebutuhan pendampingan dan fasilitas belajar bagi anak berkebutuhan khusus membutuhkan biaya tambahan yang tidak sedikit.
Padahal, lanjut Syafi'i, anak disabilitas memiliki peluang yang sama untuk berprestasi jika mendapat dukungan yang memadai. Ia mencontohkan penyanyi Putri Ariani yang sukses menembus panggung internasional hingga Alim yang mampu berkarier sebagai aktor bersama Reza Rahadian.
"Kendala yang banyak kami temui di lapangan adalah masih adanya orang tua yang menganggap anak disabilitas tidak bisa berkembang lagi. Akibatnya, mereka memilih menghentikan pendidikan anaknya," katanya.
Selain faktor ekonomi dan pola pikir orang tua, akses pendidikan juga menjadi persoalan tersendiri. Meski Pemerintah Kabupaten Kediri telah menetapkan sejumlah sekolah inklusi, tidak semua jenis kebutuhan disabilitas dapat dilayani di sekolah terdekat sehingga sebagian anak harus menempuh jarak yang lebih jauh untuk bersekolah.
Syafi'i juga menyoroti masih adanya kasus perundungan terhadap anak berkebutuhan khusus di sekolah umum. Menurutnya, minimnya kesadaran inklusivitas di lingkungan pendidikan dapat membuat anak merasa tertekan dan kehilangan motivasi untuk belajar.
"Tantangan berat lainnya adalah bullying dan stigma sosial. Jika sekolah tidak memiliki kesadaran inklusif yang kuat, anak akan merasa tertekan dan enggan bersekolah," tegasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Pergunu Kabupaten Kediri, Syamsudin, menilai sinergi antara sekolah dan keluarga menjadi kunci utama untuk menekan angka putus sekolah pada kelompok anak disabilitas. Ia berharap seluruh pihak dapat membangun pemahaman yang sama agar anak berkebutuhan khusus tetap memperoleh hak pendidikan yang layak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....