Menjelang Iduladha, Aktivis di Kediri Dorong Penggunaan Besek
- 19 Mei 2026 11:24 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri — Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, aktivis lingkungan di Kediri mendorong masyarakat dan panitia kurban mengurangi penggunaan plastik sekali pakai saat distribusi daging kurban. Penggunaan besek bambu dan wadah berbahan alami ini dinilai menjadi salah satu langkah untuk menekan timbulan sampah di tengah persoalan darurat sampah yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia saat ini.
Koordinator Forum Kali Brantas, Chandra Iman Asrori, mengatakan penggunaan besek bambu dapat menjadi alternatif pengganti kantong kresek yang selama ini mendominasi saat pembagian daging kurban.
“Penggunaan besek Ini sangat bagus sekali untuk mengganti penggunaan kantong kresek, yang saat ini harganya juga masih melambung tinggi. Tapi jangan lupa, pasca penggunaannya sampah besek tetap harus dipilah. Besek masuk ke sampah organik. Jadi jangan dicampur dengan anorganik atau residu,” ujarnya kepada RRI, Selasa, 19 Mei 2026.
Ia menilai persoalan sampah tidak berhenti pada penggunaan bahan ramah lingkungan semata, tetapi juga pada pola pengelolaan setelah sampah dihasilkan.
“Biasanya banyak sekali orang pindah ke alternatif lain dalam hal ini yang alami. Tapi ternyata di akhir mereka tidak memilah sampahnya. Ini juga akan menjadi masalah. Mengingat, di tahun 2030 nanti, Indonesia akan menerapkan “Tanpa TPA Baru” yang berdasar pada kebijakan resmi Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK),” jelasnya.
Chandra mengingatkan pemerintah daerah saat ini tengah mencari berbagai solusi untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA. “Karena itu pengurangan sampah organik, anorganik, maupun residu harus dilakukan mulai dari sumbernya,” katanya.
Chandra menyebut efektivitas penggunaan besek dalam mengurangi sampah plastik bergantung pada kesadaran masyarakat di masing-masing daerah. “Saya pernah menemukan penjual daging di wilayah Ploso, Jombang, yang masih menggunakan daun jati sebagai pembungkus dalam aktivitas transaksi sehari-harinya. Jadi, harapannya momentum Iduladha tahun ini bisa menjadi kesempatan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai,” ujarnya.
Selain dinilai lebih ramah lingkungan, penggunaan besek juga dianggap dapat menjadi solusi jangka panjang dalam pola distribusi daging kurban. Besek bambu dinilai mudah ditemukan dan masih banyak diproduksi oleh perajin lokal di berbagai daerah.
“Penggunaan bahan alami sebenarnya bukan hal baru. Di rentang waktu 90-an masyarakat terbiasa memakai wadah dari bambu atau daun untuk berbagai aktivitas sosial dan keagamaan. Kebiasaan ini yang bisa kita hidupkan kembali di masa sekarang,” jelas Chandra.
Meski demikian, ia mengakui harga menjadi tantangan utama dalam mendorong masyarakat beralih dari plastik ke besek bambu. Menurutnya, harga kantong kresek memang masih lebih murah dan mudah diperoleh dibandingkan besek.
Karena itu, Chandra mendorong pemerintah memberikan dukungan kepada perajin lokal melalui subsidi maupun kebijakan yang mendorong penggunaan wadah ramah lingkungan saat distribusi daging kurban. “Pemerintah bisa membantu melalui subsidi pembelian besek dari pengrajin lokal atau membuat kebijakan yang mendorong penggunaan besek saat pembagian daging kurban,” katanya.
Ia juga menilai meningkatnya penggunaan besek berpotensi memberi dampak ekonomi bagi para perajin lokal di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil saat ini.
“Tapi di samping adanya subsidi yang diberikan, perajin lokal juga tetap harus mendapatkan haknya dengan layak. Karena sudah barang tentu, mereka membutuhkan biaya bahan baku, tenaga, dan waktu produksi. Karena itu mereka perlu mendapat dukungan agar mampu mengembangkan produk ramah lingkungan sebagai pengganti plastik sekali pakai untuk menyelamatkan bumi,” ucap Chandra.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....