Penambang Pasir Tradisional Sungai Brantas Kediri Butuh Pendampingan
- 19 Mei 2026 09:20 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Aktivitas penambangan pasir tradisional di sepanjang aliran Sungai Brantas Kota Kediri hingga kini masih terus berjalan sebagai urat nadi perekonomian warga lokal. Setiap harinya, para penambang mulai turun ke sungai sejak pukul 06.30 WIB hingga sore hari sekitar pukul 16.00 WIB.
Meski menggunakan metode manual yang menguras tenaga, prospek usaha ini dinilai masih cukup bagus dan sejauh ini berjalan kondusif tanpa adanya gangguan eksternal yang berarti di lapangan. “Sejak paguyuban dibentuk pada tahun 2018 lalu, regulasi internal diperketat di mana hanya warga asli Kediri dan penambang tradisional yang diizinkan beroperasi. Saat ini tercatat ada sekitar 8 hingga 10 titik lokasi yang dikelola dengan total anggota mencapai 300 sampai 400 orang,” ucapnya dalam dialog bersama RRI, Selasa, 19 Mei 2026.
Ketua Paguyuban Penambang Pasir Tradisional Kawasan Kelurahan Semampir hingga Kelurahan Mojoroto, Marlan, menjelaskan bahwa saat ini jumlah penambang memang sengaja dibatasi demi menjaga ekosistem sungai dari kerusakan. "Karena sudah ada paguyuban yang menaungi sejak 2018, tren jumlah penambang dari tahun ke tahun cenderung stabil dan tetap. Pembatasan ini sangat penting agar jumlahnya tidak membludak seperti dulu yang berpotensi merusak lingkungan sungai. Kami berkomitmen agar ruang mencari nafkah ini benar-benar berjalan tertib dan khusus untuk kesejahteraan warga lokal Kediri saja," ujar Marlan.
Meskipun berjalan stabil, Marlan tidak menampik adanya kendala besar yang dihadapi para penambang lokal, terutama persaingan ketat dengan alat-alat modern dari luar daerah yang membuat jangkauan penjualan mereka menjadi terbatas. Masalah pendapatan pun sifatnya sangat kondisional, di mana dalam situasi normal dan mendukung, seorang penambang bisa membawa pulang Rp70.000 hingga Rp100.000 per hari.
Namun, pendapatan tersebut seketika terhenti jika debit air sungai sedang naik, karena para penambang manual sama sekali tidak bisa bekerja. Tantangan alam lain yang kerap dihadapi adalah fenomena tahunan pladu atau penggelontoran lumpur dari Bendungan Lodoyo Blitar yang membuat air Sungai Brantas menjadi sangat keruh.
Ketika fenomena ini terjadi, aktivitas penambangan dipastikan lumpuh total selama kurun waktu 3 hingga 4 hari jika tidak turun hujan. “Beruntung, pihak Perum Jasa Tirta dinilai sangat mendukung dengan selalu memberikan informasi dan koordinasi penutupan bendungan lebih awal, sehingga para penambang yang sudah memahami tradisi alam ini bisa mengantisipasinya,” katanya.
Di balik beratnya pekerjaan tersebut, Marlan menyayangkan adanya stigma negatif dari sebagian masyarakat yang kerap memandang sebelah mata profesi penambang manual. "Padahal, secara tidak langsung aktivitas kami ini membantu membersihkan sampah-sampah yang terendam di dasar sungai yang tidak terlihat dari permukaan. Alhamdulillah, meskipun berat, hasilnya tetap mencukupi untuk kesejahteraan keluarga asalkan kita selalu bersyukur. Proses regenerasi pun terus berjalan baik dari warga sekitar, dengan usia pekerja mulai dari yang termuda 20 tahun hingga yang paling tua di atas 60 tahun," katanya.
Mewakili ratusan penambang, Marlan mengungkapkan bahwa para pekerja sebetulnya sangat mengharapkan perhatian, kenyamanan, serta pendampingan nyata dari pemerintah daerah ke depannya. Mereka berharap stigma negatif seperti tuduhan merusak pemandangan atau merusak lingkungan bisa terkikis melalui edukasi dan legalitas yang jelas.
“Saya sebagai Ketua Paguyuban mewakili seluruh penambang pasir di wilayah ini, akan terus berkomitmen menjaga kelestarian dan kebersihan Sungai Brantas, sembari berharap pemerintah hadir memberikan jaminan keamanan bagi keberlangsungan hajat hidup para penambang tradisional,” tuturnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....