Harga Plastik Masih Melonjak, Pelaku UMKM Jombang Tertekan Biaya Produksi

  • 28 Apr 2026 11:15 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Jombang – Kenaikan harga plastik kemasan dalam beberapa bulan terakhir mulai menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Lonjakan harga yang terjadi sejak awal tahun 2026 ini berdampak langsung pada biaya produksi, terutama bagi pelaku usaha makanan kaki lima yang bergantung pada plastik sebagai kemasan utama.

Sejumlah pedagang mengaku harga plastik jenis kantong transparan ukuran sedang yang sebelumnya berkisar Rp18.000 kini naik menjadi Rp25.000 hingga Rp28.0000. Sementara plastik ukuran kecil juga mengalami kenaikan dari Rp12.000 menjadi Rp18.000. Kenaikan ini terjadi secara bertahap, namun dalam dua bulan terakhir lonjakannya dinilai cukup signifikan.

Habibi, salah satu pelaku UMKM penjual pentol di Jombang, mengaku kenaikan harga plastik sangat memengaruhi biaya operasional hariannya.

“Dulu harga plastik masih relatif stabil, jadi tidak terlalu terasa. Sekarang naiknya cukup tinggi. Dalam sehari saya bisa keluar tambahan biaya sekitar Rp15.000 sampai Rp20.000 hanya untuk plastik. Kalau dikalikan sebulan, tentu cukup berat,” ujar Habibi saat ditemui di kawasan Jombang kota, Selasa, 28 April 2026.

Menurut Habibi, kondisi tersebut membuat pelaku usaha kecil harus mencari cara untuk tetap bertahan, mulai dari mengurangi penggunaan plastik hingga mempertimbangkan menaikkan harga jual. “Kalau saya pribadi tidak menaikkan harga jual. Tapi ya ngurangi porsi saja,” ucapnya.

Di sisi lain, Ririn, pedagang plastik di salah satu toko bahan kemasan di Jombang, menyebut kenaikan harga dipicu oleh naiknya harga bahan baku plastik di tingkat produsen. Bahan baku utama plastik yang berasal dari turunan minyak bumi mengalami kenaikan harga mengikuti fluktuasi pasar global.

“Kami sebagai penjual juga tidak bisa menahan harga karena dari distributor sudah naik. Kenaikan ini terjadi karena bahan baku impor mahal, ditambah biaya distribusi dan produksi yang ikut naik,” jelas Ririn.

Ririn mengatakan, kenaikan harga sudah terjadi sejak akhir tahun lalu, namun mulai terasa signifikan pada awal 2026. Selain faktor bahan baku, biaya transportasi dan distribusi juga ikut memengaruhi harga jual di tingkat pengecer.

Ia menambahkan, permintaan plastik dari pelaku UMKM sebenarnya masih tinggi, namun banyak pembeli yang kini mengurangi jumlah pembelian untuk menekan biaya produksi, “Ya imbasnya ngaruh juga ke omzet penjualan. Karena orang-orang kan mengurangi jumlah belinya,” katanya.

Para pelaku usaha berharap ada solusi dari pemerintah, baik melalui pengendalian harga bahan baku maupun alternatif kemasan yang lebih terjangkau. Tanpa intervensi yang tepat, kenaikan harga plastik dikhawatirkan akan terus membebani UMKM dan berpotensi memengaruhi stabilitas harga produk di tingkat konsumen.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....