Hadapi Kemarau, Distribusi Air Irigasi di Jombang Diatur Ulang
- 27 Apr 2026 16:24 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Jombang — Distribusi air irigasi di Kabupaten Jombang mulai diatur ulang sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi kemarau panjang tahun 2026. Penyesuaian dilakukan untuk memastikan ketersediaan air tetap terjaga, terutama bagi lahan pertanian yang bergantung pada sistem irigasi.
Pengaturan ini mencakup pembagian suplai air secara lebih efisien serta penyesuaian jadwal tanam di sejumlah wilayah. Pemerintah daerah berupaya mengurangi risiko kekeringan yang dapat berdampak pada produktivitas pertanian.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jombang, Imam Bustomi, mengatakan bahwa prediksi musim kemarau menjadi dasar dalam penyusunan strategi distribusi air. “Perkiraan menunjukkan musim kemarau datang lebih awal dan berlangsung lebih lama, dengan suhu yang cenderung meningkat. Untuk wilayah utara Sungai Brantas diperkirakan mulai awal Mei, sedangkan wilayah lainnya menyusul pada pertengahan Mei. Ini yang menjadi acuan kami dalam mengatur distribusi air agar lebih efisien,” ujarnya, Senin, 27 April 2026.
Ia menambahkan, langkah antisipasi juga diarahkan pada pengaturan pola tanam agar kebutuhan air dapat disesuaikan dengan ketersediaan di lapangan. “Kami mendorong percepatan tanam pada musim kemarau pertama, serta mengimbau petani agar tidak memaksakan penanaman padi di musim kemarau kedua di daerah yang berpotensi kekurangan air,” katanya.
Selain faktor cuaca, potensi gangguan distribusi air juga muncul dari rencana pekerjaan konstruksi di sejumlah daerah irigasi. “Ada kegiatan dari BBWS Brantas yang kemungkinan memengaruhi aliran air, terutama di wilayah hilir,” ujarnya.
Untuk menjaga pasokan tetap stabil, pemerintah menyiapkan langkah alternatif dalam pengaliran air. “Distribusi air akan tetap diupayakan berjalan dengan mengalihkan aliran melalui pipa berdiameter besar atau saluran sementara selama pekerjaan berlangsung,” katanya.
Di sisi lain, petani didorong untuk beradaptasi dengan memilih komoditas yang lebih hemat air guna mengurangi ketergantungan pada irigasi. Pendekatan ini dinilai penting dalam menjaga keberlanjutan produksi.
Langkah teknis lainnya meliputi pendataan sumber air alternatif, seperti sumur dalam, serta optimalisasi penggunaan pompa untuk mendukung kebutuhan irigasi di lapangan. “Kami juga memperkuat koordinasi antara penyuluh pertanian dan kelompok pengelola air agar distribusi bisa diatur lebih tepat dan merata,” ucapnya.
Pemerintah juga mencermati potensi kemunculan fenomena El Nino pada 2026 yang dapat memperparah kondisi kekeringan, meski intensitasnya diperkirakan tidak sekuat tahun sebelumnya. “Walaupun tidak sebesar sebelumnya, dampaknya tetap perlu diantisipasi karena bisa memengaruhi ketersediaan air, khususnya di daerah yang mengandalkan irigasi,” ujarnya.
Dengan penyesuaian distribusi air dan pola tanam tersebut, pemerintah daerah berharap dampak kemarau dapat diminimalkan sehingga sektor pertanian di Jombang tetap produktif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....