Menggertakkan Gigi saat Tidur ternyata Dampak dari Rasa Cemas

  • 29 Sep 2026 09:48 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri- Istilah medis seseorang yang sering menggertakkan gigi saat tidur disebut Sleep Bruxism. Kebiasaan ini bisa terjadi pada siapa saja, baik anak-anak, dewasa, hingga orang tua. Jika tidak ditangani, kebiasaan ini dapat mengganggu pertumbuhan gigi dan menyebabkan kerusakam gigi berat. Menurut laman Alodokter, pada banyak kasus, bruxism dapat terjadi secara spontan ketika seseorang sedang berkonsentrasi, merasa cemas, atau mengalami stres berat.

Menurut akun Dokter Gigi Dental Center, penyebab seseorang alami sleep bruxism adalah tekanna psikologis atau kemarahan yang bisa memicu ketegangan otot rahang dan wajah. Gangguan tidur juga tidak bisa disepelekan, sering mendengkur atau sleep apnea. Susunan gigi yang kurang proporsional dan selaras juga bisa menjadi pemicunya. Sebagian besar penderita tidak menyadari kebiasaan bruxism hingga munculnya komplikasi.

Selain kerusakan pada gigi, bruxism juga dapat menimbulkan sakit kepala kronis. Kepribadian yang agresif dan hiperaktif juga menjadi faktor penyebab bruxism. Menjalani gaya hidup tidak sehat, seperti merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, atau menyalahgunakan NAPZA, menderita penyakit tertentu, seperti Parkinson, demensia, asam lambung atau epilepsi. Mengonsumsi obat-obatan antipsikotik, seperti cloropromazine, atau obat-obatan antidepresan jenis SSRIs, seperti fluoxetine atau escitalopram.

Bruxism juga sering terjadi pada anak-anak, terutama ketika pertama kali mengalami tumbuh gigi. Namun hal iti dapat terulang ketika gigi permanen mulai tumbuh. Umumnya, bruxism akan berkurang atau berhenti dengan sendirinya saat anak memasuki masa remaja. Menurut studi yang diterbitkan dalam International Journal of Environmental Research and Public Healt, sekitar 49% anak-anak bisa mengalami kebiasaan menggertakkan atau menggesekkan gigi.

Seseorang yang sering mengalami bruxism akan menunjukkan perubahan gestur, ekspresi, hingga struktur fisik pada wajahnya akibat tekanan otot yang berlebihan. Area sekitar mulut, pipi, dan pelipis sering tampak kaku atau menegang, menyerupai ekspresi orang yang sedang menahan marah atau menahan nyeri. Kadang juga terlihat gestur seperti sedang mengunyah sesuatu secara perlahan atau menggeser rahang ke kanan dan kiri padahal mulut mereka kosong.

Bruxism dapat diatasi dengan beberapa cara yaitu membiasakan tidur dengan tenang, seperti memutar musik yang menenangkan atau mengurangi penggunana gadget sesaat sebelum tidur. Jika gigi sudah terlihat aus atau sangat mengganggu aktivitas, gunakan pelindung gigi sesuai saran dokter. Jika stres emosional adalah penyebab utamanya, terapi perilaku atau konseling dapat membantu anak mengelola ketegangan dengan cara yang lebih sehat.

Dilansir dari Primaya Hospital, dokter umumnya akan melakukan beberapa pemeriksaan tambahan guna mendiagnosis secara menyeluruh. Meliputi, pemeriksaan x-ray guna mengetahui kerusakan area gigi mulut, pemeriksaan sekitar gigi dan mulut, termasuk otot rahang, dan memastikan bahwa penderita tidak memiliki kelainan gigi/mulut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....