Pentingnya Latihan Crossing Midline pada Anak sebelum Belajar Calistung
- 29 Jul 2026 06:26 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Proses tumbuh kembang anak pada masa usia emas (golden age) memerlukan perhatian penuh dari para orang tua. Banyak orang tua mengeluhkan putra-putrinya yang mengalami kesulitan saat mulai belajar membaca, menulis, maupun berhitung (calistung). Namun, kendala tersebut kerap kali bukan disebabkan oleh rendahnya tingkat kecerdasan anak, melainkan akibat belum teroptimalisasinya koordinasi antarbelahan otak.
Dokter umum sekaligus kreator konten edukasi kesehatan, dr. Harys Maulana, membagikan informasi krusial mengenai pentingnya pemahaman tentang midline atau garis tengah imajiner tubuh. Midline merupakan garis imajiner yang memisahkan sisi kiri dan kanan otak serta tubuh manusia. Kemampuan untuk menggerakkan anggota tubuh melintasi garis imajiner ini dikenal dengan istilah crossing midline.
Menurut dr. Harys, kemampuan crossing midline memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan saraf anak. Gerakan yang melintasi garis tengah tubuh ini memicu aktivitas pada corpus callosum, yakni jembatan saraf yang menghubungkan dan memfasilitasi komunikasi antara otak kiri dan otak kanan. Apabila corpus callosum kurang terlatih, integrasi informasi di dalam otak menjadi tidak optimal.
Dampak dari tidak terlatihnya kemampuan ini cukup signifikan terhadap performa akademis anak di masa depan. Berdasarkan riset, anak usia 4 hingga 5 tahun yang tidak lancar melakukan crossing midline memiliki peluang hingga 70 persen untuk mengalami kesulitan membaca, menulis, hingga menyelesaikan persoalan matematika saat memasuki jenjang sekolah.
Orang tua sebenarnya dapat mengenali tanda-tanda masalah crossing midline sejak dini melalui pengamatan sederhana di rumah. Beberapa indikator utama di antaranya adalah anak yang suka mengganti pegangan tangan saat menggambar di bagian tengah kertas, sering menulis huruf atau angka secara terbalik, serta kesulitan saat diberi instruksi dua langkah yang melibatkan dua sisi tubuh.
Guna mencegah kendala tersebut, dr. Harys mengimbau para orang tua untuk tidak terburu-buru memaksakan anak belajar calistung formal sejak dini. Sebaliknya, anak pada rentang usia 2 hingga 3 tahun sebaiknya terlebih dahulu dibiasakan untuk melakukan latihan stimulasi gerakan fisik melintasi garis tengah tubuh guna melatih kesiapan otak mereka.
Ada tiga gerakan wajib sederhana yang disarankan untuk dilatih setiap hari sebelum anak belajar calistung. Pertama adalah Cross Crawl, yaitu gerakan menyentuh lutut kanan menggunakan siku kiri secara bergantian selama dua menit sehari. Gerakan kedua adalah Lazy 8, yakni meminta anak menggambar angka delapan tidur di udara menggunakan ibu jari sambil diikuti oleh gerak pandangan mata.
Gerakan ketiga adalah Touch Opposite, yaitu latihan menyentuh telinga kanan dengan tangan kiri dan sebaliknya secara bergantian, di mana semakin cepat gerakan dilakukan maka akan semakin baik. Melalui stimulasi gerakan dasar ini, integrasi otak anak akan terbentuk lebih kuat sehingga siap menyerap pelajaran membaca, menulis, dan berhitung secara optimal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....