Puncak Musim Kemarau, Masyarakat Diminta Waspadai Risiko ISPA yang Meningkat
- 07 Sep 2026 15:43 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri – Memasuki puncak musim kemarau, masyarakat Kabupaten Kediri diminta tetap mewaspadai infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Kondisi cuaca yang kering dan lingkungan berdebu dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan.
Kewaspadaan tersebut perlu menjadi perhatian karena kasus ISPA di Kabupaten Kediri sepanjang Januari hingga Agustus 2026 telah mencapai 62.613 kasus. Jumlah ini tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, dr Bambang Triyono Putro, mengatakan, meski secara kumulatif meningkat, perkembangan kasus dalam beberapa bulan terakhir justru menunjukkan kecenderungan menurun. Pada Agustus 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri mencatat 5.172 kasus ISPA. Jumlah tersebut turun dibandingkan Juli yang mencapai 6.328 kasus.
Penurunan lebih besar terlihat jika dibandingkan dengan Mei, ketika kasus ISPA tercatat sebanyak 11.461 kasus. “Kalau kita melihat perkembangannya, tren kasus justru menunjukkan penurunan,” ujarnya, Senin, 7 September 2026.
Namun, jika dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah kasus ISPA pada periode Januari hingga Agustus 2026 masih lebih tinggi. Pada periode yang sama tahun 2025, tercatat sebanyak 56.968 kasus, artinya, terdapat tambahan 5.645 kasus atau sekitar 9,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Bambang, edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi tersebut. Masyarakat perlu memahami pentingnya menjaga kebugaran tubuh sekaligus menerapkan pola hidup bersih dan sehat, khususnya selama musim kemarau.
“Yang penting masyarakat terus diedukasi untuk menjaga daya tahan tubuh dan membiasakan perilaku hidup bersih serta sehat, terutama pada kondisi musim seperti sekarang,” jelas Bambang.
Sementara itu, peningkatan kasus juga terlihat di wilayah Kecamatan Pare. UPTD Puskesmas Pare mencatat sekitar 80 persen kunjungan pasien dalam beberapa pekan terakhir masih didominasi oleh penderita ISPA.
Dokter Umum UPTD Puskesmas Pare, dr. Raras Olivia Cindy, mengatakan kondisi udara yang kering pada puncak musim kemarau menjadi salah satu faktor yang memengaruhi peningkatan gangguan pernapasan. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya dialami pasien dewasa, tetapi juga cukup banyak ditemukan pada anak-anak.
Pada kelompok anak, paparan debu dan asap dinilai lebih mudah memicu gangguan pernapasan karena daya tahan tubuh dan kondisi saluran pernapasan yang berbeda dengan orang dewasa. Anak juga dinilai lebih rentan mengalami kondisi yang lebih berat, termasuk pneumonia maupun bronkopneumonia.
“Paparan debu, asap kendaraan, ataupun adanya asap rokok di dalam rumah dapat memperburuk gangguan pernapasan pada anak. Saluran pernapasan anak yang lebih kecil membuat lendir dalam jumlah sedikit sekalipun berpotensi mengganggu aliran udara,” ujarnya.
Kondisi tersebut dapat ditandai dengan batuk berdahak, kesulitan tidur, demam hingga sesak napas. Sementara pada pasien dewasa, keluhan yang muncul umumnya berupa batuk dan pilek dengan gejala yang relatif lebih ringan.
“Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian karena saluran pernapasannya lebih kecil dan daya tahan tubuhnya berbeda dengan orang dewasa,” katanya.
Karena itu, dr. Raras menyarankan orang tua membatasi aktivitas anak di luar rumah ketika kondisi udara berdebu. Kebersihan lingkungan tempat tinggal juga perlu dijaga, termasuk menghindari paparan asap rokok di dalam rumah.
“Kalau memungkinkan, anak tidak terlalu sering dibawa keluar saat kondisi udara kering dan berdebu. Lingkungan rumah perlu dijaga tetap bersih, tidak merokok di dalam rumah, serta menghindari pembakaran sampah yang dapat menambah paparan asap,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....