Puskesmas Pare Temukan Kasus HIV pada Beragam Kelompok Usia
- 04 Sep 2026 13:39 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri – Puskesmas Pare, Kabupaten Kediri, menemukan kasus HIV pada pasien dari beragam kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga usia dewasa. Hingga September 2026, sekitar 25 pasien tercatat menjalani pengobatan melalui layanan Poli Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) HIV di Puskesmas Pare.
Ahli Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku Puskesmas Pare, Rachmah Wahyu Ainsyah, mengatakan layanan PDP HIV tersebut merupakan layanan baru yang dibuka untuk memberikan perawatan, dukungan, dan pengobatan bagi pasien HIV.
“Kami memiliki layanan di Poli Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan atau PDP HIV. Ini merupakan layanan yang baru kami buka, dan pelayanannya dilakukan setiap hari Jumat,” ujar Rachmah, saat ditemui RRI di kantornya, Jumat, 4 September 2026.
Menurut Rachmah, pasien yang mendapatkan layanan tersebut berasal dari kelompok usia yang berbeda. Selain pasien dewasa, Puskesmas Pare juga menemukan kasus HIV pada anak dan remaja. “Salah satu pasien kami ada juga anak berusia empat tahun yang tertular dari orang tuanya. Kemudian ada juga remaja dengan rentang usia 19 sampai 20 tahun,” katanya.
Rachmah mengatakan, sebagian besar pasien yang menjalani pengobatan di Puskesmas Pare merupakan kelompok usia dewasa. Berdasarkan karakteristik pasien yang ditangani, jumlah pasien laki-laki lebih mendominasi dibandingkan pasien perempuan. Sebagian pasien laki-laki tersebut berasal dari kelompok laki-laki yang memiliki orientasi seksual, Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL).
Selain melalui layanan pengobatan, Puskesmas Pare juga melakukan penelusuran atau tracing sebagai bagian dari upaya triple eliminasi. Sasaran kegiatan tersebut meliputi ibu hamil, calon pengantin, serta kelompok yang memiliki faktor risiko yang datang untuk mendapatkan layanan kesehatan. “Kami juga sempat melakukan tracing di area Kampung Inggris. Kami mencari di sana karena memang banyak orang yang berasal dari luar kota,” jelas Rachmah.
Dalam proses pemeriksaan, masyarakat terlebih dahulu mendapatkan konsultasi apabila status HIV belum diketahui secara pasti. Pemeriksaan kemudian dilakukan menggunakan rapid test HIV dengan dua reagen sesuai prosedur pemeriksaan.
Rachmah menjelaskan, pemeriksaan HIV perlu mempertimbangkan adanya masa jendela. Pada periode tersebut, seseorang yang baru terinfeksi dapat menularkan virus, meskipun hasil pemeriksaan masih menunjukkan hasil yang negatif. Ia menambahkan, seseorang yang terinfeksi HIV juga dapat tidak mengalami gejala dalam waktu yang panjang. Masa inkubasi hingga munculnya gejala dapat berlangsung selama bertahun-tahun sehingga seseorang terkadang baru mengetahui status HIV setelah infeksi berlangsung cukup lama.
“Setelah itu, masa inkubasinya sampai muncul gejala bisa lima sampai 10 tahun. Jadi orang yang mengidap HIV mungkin tidak tahu dan baru mengetahui bahwa dirinya terinfeksi setelah sudah lama,” terang Rachmah.
Menurut Rachmah, sebagian kasus HIV yang ditemukan pada pasien dewasa berkaitan dengan riwayat infeksi menular seksual (IMS). Keluhan seperti kutil kelamin dan keluarnya nanah saat buang air kecil menjadi salah satu alasan pasien datang untuk memeriksakan kondisi kesehatannya.
“Awalnya biasanya pasien mengalami infeksi menular seksual, kemudian muncul seperti kutil kelamin, kencing bernanah, dan lain-lain. Setelah diperiksa, kemudian dilakukan pemeriksaan HIV dan sifilis, ternyata hasilnya reaktif,” jelasnya.
Rachmah menyebut faktor perilaku seksual aktif menjadi salah satu hal yang ditemukan dalam riwayat sejumlah pasien. Namun, pola penularan setiap pasien berbeda sehingga diperlukan pemeriksaan untuk mengetahui status kesehatan pasien secara pasti.
Untuk meningkatkan pemahaman mengenai HIV, Puskesmas Pare juga gencar melakukan edukasi secara berkala, utamanya dengan menyasar lingkungan sekolah. Edukasi tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan serta meningkatkan pengetahuan mengenai HIV dan cara penularannya.
Puskesmas Pare mengimbau masyarakat yang memiliki faktor risiko maupun mengalami gejala infeksi menular seksual untuk tidak menunda pemeriksaan. Deteksi dan penanganan lebih awal diperlukan agar pasien dapat segera memperoleh layanan kesehatan serta pengobatan sesuai kondisinya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....