Cegah Perluasan TBC, Ribuan Santri Tebuireng Lakukan Skrining

  • 20 Agt 2026 22:14 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Jombang – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan skrining tuberkulosis (TBC) terhadap ribuan santri dan guru di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, untuk mencegah meluasnya penularan penyakit tersebut di lingkungan pesantren. Pemeriksaan yang dimulai pada Kamis, 20 Agustus 2026, itu menyasar 2.481 santri dan 197 guru selama tiga hari ke depan.

Skrining perdana dilakukan di SMA A Wahid Hasyim Pondok Pesantren Tebuireng. Pemeriksaan menggunakan perangkat rontgen atau X-ray portabel yang memungkinkan santri dan guru menjalani pemeriksaan secara langsung di lingkungan pesantren.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, TBC masih menjadi persoalan kesehatan serius di Indonesia. Tingginya angka kematian akibat penyakit tersebut, menurutnya, salah satunya dipengaruhi keterlambatan dalam menemukan kasus.

"Obat untuk TBC sebenarnya tersedia. Persoalannya, banyak penderita baru diketahui ketika kondisinya sudah terlambat ditangani. Karena itu, skrining menjadi penting untuk menemukan kasus lebih awal," ujar Budi.

Budi menyebut pemerintah terus memperkuat upaya deteksi dini, salah satunya dengan memperbanyak perangkat X-ray portabel untuk digunakan puskesmas. Alat tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk melakukan pemeriksaan di sekolah, pesantren, hingga lembaga pemasyarakatan yang memiliki lingkungan hunian padat.

"Ribuan perangkat X-ray akan kami siapkan dan distribusikan ke puskesmas. Nantinya alat tersebut bisa digunakan untuk melakukan skrining di sekolah, pesantren, maupun lapas yang memiliki pola hunian padat seperti lingkungan asrama," jelasanya.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin berkunjung ke lingkungan Pesantren Tebuireng SMA A Wahid Hasyim untuk meninjau penyebaran penyakit TBC (Foto : SMA A Wahid Hasyim PP Tebuireng)

Adapun, pada skrining hari pertama di Tebuireng, ditemukan 26 santri yang terdeteksi TBC. Budi meminta temuan tersebut tidak menimbulkan kekhawatiran maupun stigma terhadap pesantren maupun santri yang menjalani pengobatan.

"Kalau ada TBC, bukan berarti sekolahnya jelek. Justru kalau ditemukan, itu bagus karena bisa segera diobati sehingga penularannya dapat dihentikan. Saya berterima kasih kepada pengurus Pondok Pesantren Tebuireng yang sudah memulai langkah ini. Mudah-mudahan bisa dilanjutkan ke 42 ribu pesantren lainnya," ujarnya.

Sementara itu, Perwakilan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Lelly Lailliya, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan skrining gratis tersebut. Ia memastikan santri yang terdeteksi TBC akan mendapatkan obat tanpa biaya selama masa pengobatan, yang diperkirakan berlangsung satu hingga tiga bulan.

Lelly juga mengingatkan agar santri yang menjalani pengobatan tidak dikucilkan. Menurutnya, pencegahan penularan tetap perlu dilakukan dengan penggunaan masker dan menjaga kewaspadaan bersama.

"Teman-temannya tidak perlu mengisolasi atau menjauhi santri yang terkena TBC. Mereka tetap bisa bersama, tetapi untuk sementara teman-temannya menggunakan masker. Hal ini perlu dipahami, seperti pengalaman kita saat pandemi ketika penggunaan masker menjadi bagian dari pencegahan," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....