Menjaga Batik Tetap Bernyawa, Pengrajin Kediri Lahirkan Motif Panji Galuh

  • 05 Okt 2026 16:44 WIB
  •  Kediri
Poin Utama
  • Di balik setiap goresan motif batik yang dibuat, ada upaya untuk menjaga keterampilan membatik sekaligus mempertahankan karya lokal agar tetap dikenal dan diminati masyarakat
  • Melalui motif baru, pemasaran yang lebih dekat dengan konsumen, serta keberanian untuk terus berkreasi, mereka berupaya menjaga agar setiap goresan canting tetap menjadi bagian dari cerita panjang batik Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Bagi Heri, selembar kain batik bukan hanya tentang motif dan warna. Di balik setiap goresan yang dibuatnya, ada upaya untuk menjaga keterampilan membatik sekaligus mempertahankan karya lokal agar tetap dikenal dan diminati masyarakat.

Sejak merintis usaha batik tulis pada 2015, pengrajin asal Kabupaten Kediri ini terus menghasilkan karya melalui brand Lochatara. Selama lebih dari satu dekade, ratusan motif telah lahir dari proses kreatifnya, dengan karakter yang terus dikembangkan mengikuti selera masyarakat.

Perjalanan tersebut, diungkapkan Heri, karena ia menilai perjuangan itu memang tidak selalu mudah. Di tengah kondisi ekonomi yang belum menentu dan perubahan pola belanja masyarakat, ia harus terus mencari cara agar batik hasil karyanya tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga tetap memiliki tempat di hati konsumen.

"Salah satu karya yang pernah mendapat sambutan cukup baik adalah motif lidah api. Motif tersebut bahkan sempat menjadi salah satu produk yang paling diminati atau best seller dalam beberapa tahun terakhir," kata Heri, ditemui di gerainya, di Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Senin, 5 Oktober 2026.

Namun, pengalaman itu tidak membuat Heri berhenti berinovasi. Ia menyadari bahwa mempertahankan batik tidak cukup hanya dengan mengandalkan motif yang sudah dikenal, tetapi juga membutuhkan keberanian untuk menciptakan karya baru.

Tahun ini, Heri kembali mengenalkan motif batik baru bernama Panji Galuh. Motif tersebut menjadi salah satu karya yang diharapkan mampu memperkaya pilihan batik lokal sekaligus memperkenalkan cerita dan identitas daerah melalui karya di atas kain.

"Yang kami lakukan adalah terus membuat inovasi. Karena batik itu harus terus berkembang, baik dari motif maupun cara kita mengenalkannya kepada masyarakat," kata Heri.

Selain menciptakan motif baru, Heri kini juga memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan pemasaran. Cara tersebut dipilih agar karya batiknya dapat lebih mudah ditemukan masyarakat, terutama generasi yang terbiasa mencari produk melalui platform digital.

Meski demikian, momentum Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober belum secara langsung membuat penjualan batiknya meningkat. Heri mengaku, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengrajin untuk terus menjaga semangat berkarya.

"Untuk omzet tahun ini memang belum meningkat seperti yang diharapkan. Tapi kami tidak ingin berhenti. justru harus terus mencari inovasi dan cara pemasaran yang lebih dekat dengan masyarakat," katanya.

Kecintaan masyarakat terhadap batik lokal juga masih menjadi harapan bagi keberlangsungan para pengrajin. Erma Kristin, guru SMP Negeri 2 Ngancar Kabupaten Kediri, mengaku masih memilih batik sebagai salah satu busana yang dikenakannya dan lebih senang membeli langsung di gerai.

"Saya lebih senang membeli secara langsung, karena bisa melihat motif dan bahan kainnya. Kalau membeli batik karya pengrajin lokal, rasanya juga ikut mendukung mereka untuk terus berkarya," kata Erma.

Bagi Heri dan para pengrajin lainnya, dukungan masyarakat menjadi bagian penting agar batik tidak berhenti sebagai simbol budaya. Melalui motif baru, pemasaran yang lebih dekat dengan konsumen, serta keberanian untuk terus berkreasi, mereka berupaya menjaga agar setiap goresan canting tetap menjadi bagian dari cerita panjang batik Kediri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....