Mengenal Tradisi Suroan Warga Dusun Jati dan Sosok Ki Ageng Manis
- 18 Jun 2026 22:50 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Di tengah derasnya perubahan zaman, warga Dusun Jati, Desa Krenceng, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, masih memegang teguh tradisi yang diwariskan para leluhur
RRI.CO.ID, Kediri - Di tengah derasnya perubahan zaman, warga Dusun Jati, Desa Krenceng, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, masih memegang teguh tradisi yang diwariskan para leluhur.
Ratusan masyarakat berjalan bersama mengarak hasil bumi dalam kirab budaya yang menjadi bagian dari peringatan bersih dusun dan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.
Sejak Kamis siang, 18 Juni 2026, suasana dusun tampak berbeda. Pria, wanita, hingga anak-anak mengenakan pakaian adat Jawa. Mereka membawa tumpeng serta berbagai hasil panen yang ditata rapi sebagai simbol rasa syukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT.
Kirab budaya dimulai dari ujung Dusun Jati yang berbatasan dengan Dusun Jegles, Desa Keling. Dengan penuh semangat, warga berjalan kaki sejauh kurang lebih satu kilometer menuju Makam Pepunden Dusun Jati, Ki Ageng Manis.
Bagi masyarakat setempat, perjalanan tersebut bukan sekadar prosesi budaya. Setiap langkah menjadi bentuk penghormatan kepada sosok yang diyakini sebagai pembabat atau perintis berdirinya Dusun Jati.
Di sepanjang perjalanan, nuansa budaya semakin terasa dengan kehadiran perangkat Desa Krenceng yang turut mengenakan busana adat khas Kabupaten Kediri. Kehadiran mereka menyatu bersama warga, memperlihatkan eratnya hubungan antara pemerintah desa dan masyarakat dalam menjaga tradisi.
Budayawan Dusun Jati, KH Ali Wahyudi, menceritakan, bahwa kirab hasil bumi merupakan agenda rutin setiap bulan Suro atau Muharram yang memiliki makna mendalam bagi warga.
"Setiap bulan Suro atau Muharram kami selalu menggelar tradisi ini. Tujuannya untuk meningkatkan jalinan kebersamaan masyarakat, menjaga kerukunan dan semangat gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan warga," kata Ali.
Tradisi tersebut, menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah wilayah tidak lepas dari jasa para pendahulu yang telah membuka kawasan yang dahulu berupa hutan hingga berkembang menjadi permukiman yang nyaman untuk ditinggali.
Selain dikenal sebagai pembabat Dusun Jati, Ki Ageng Manis juga diyakini memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di wilayah tersebut. Karena itu, masyarakat terus menjaga tradisi sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah yang menjadi bagian dari identitas mereka.
Bagi warga, sedekah bumi melalui kirab hasil panen juga menjadi simbol rasa syukur atas berkah yang diperoleh dari tanah yang mereka garap setiap hari. Tradisi bersih dusun tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan membersihkan lingkungan, tetapi juga momentum membersihkan hati dan mempererat hubungan antarsesama melalui doa bersama.
"Gotong royong yang tercipta di Dusun Jati ini selalu kami harapkan menjadi cara kita untuk hidup guyub rukun antar sesama. Kami yakin, segala sesuatu yang sulit akan menjadi lebih mudah jika diwujudkan berbarengan," ucap Ali.
Kepala Desa Krenceng, Nur Huda, memberikan apresiasi kepada seluruh masyarakat yang terus menjaga tradisi tahunan tersebut.
"Agenda ini bukan hanya bentuk rasa syukur, tetapi juga sarana memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat," kata Nur Huda.
Camat Kepung, M. Saroni, juga mengaku terkesan dengan kebersamaan warga Dusun Jati. Ia menilai semangat guyub rukun yang masih terjaga menjadi contoh positif bagi wilayah lain.
"Di tengah fenomena menurunnya semangat kebersamaan di beberapa tempat, saya melihat masyarakat Dusun Jati masih sangat kompak. Ini menjadi teladan yang baik bagi desa-desa lain di wilayah Kecamatan Kepung," kata M Saroni.
Usai kirab budaya, warga berkumpul dalam kenduri bersama. Tumpeng dan ambeng yang dibawa dari rumah masing-masing dinikmati secara bersama-sama tanpa memandang status sosial. Momen sederhana itu menjadi gambaran nyata kuatnya nilai persaudaraan yang masih hidup di tengah masyarakat Dusun Jati.
Memasuki malam hari, warga kembali berkumpul untuk menggelar doa bersama sebagai bagian dari peringatan Tahun Baru Islam. Rangkaian kegiatan akan mencapai puncaknya pada Sabtu mendatang melalui pagelaran wayang kulit sebagai upaya melestarikan budaya warisan leluhur agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda.
"Hal ini bisa terselenggara berkat dukungan seluruh panitia, baik pemuda dan warga Jati serta Desa Krenceng," kata Kepala Dusun Jati, Amar.
Di Dusun Jati, tradisi bukan sekadar warisan masa lalu. Ia menjadi perekat yang menyatukan warga, menjaga kerukunan, serta menghubungkan generasi hari ini dengan jejak para leluhur yang telah membangun kampung mereka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....