Jamasan Pusaka Bung Karno, Menjaga Sejarah dan Ingatan untuk Generasi Muda

  • 04 Jul 2026 17:57 WIB
  •  Kediri
Poin Utama
  • Diiringi doa dan harum kembang setaman, puluhan pusaka dibasuh satu per satu di Situs Ndalem Pojok, Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Diiringi doa dan harum kembang setaman, puluhan pusaka dibasuh satu per satu di Situs Ndalem Pojok, Kediri.

Pada Jumat Legi, 3 Juli 2026, tradisi Nyuci dan Jamasan Pusaka menyambut Bulan Suro kembali digelar. Tahun ini terasa istimewa, karena dua pusaka milik Presiden Soekarno ikut disucikan.

Situs Cagar Budaya Ndalem Pojok Persada Soekarno menggelar ritual ini sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus penghormatan terhadap warisan sejarah bangsa.

Kegiatan diselenggarakan oleh Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok, bersama PASAK atau Pelestari Sejarah dan Budaya Kadiri, dan bersinergi dengan Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia.

Selain merawat pusaka milik keluarga besar Raden Mas Panji Soemahatmodjo, perhatian publik tertuju pada dua pusaka peninggalan Presiden pertama RI, Ir Soekarno.

Dua pusaka tersebut adalah sebilah tombak dan Keris Kiai Gadakan. Keduanya selama ini tersimpan dan dirawat di Situs Ndalem Pojok Kediri sebagai amanah sejarah.

Prosesi jamasan tidak dilakukan dalam satu hari. Sejak dua hari sebelumnya, pusaka-pusaka telah menjalani proses perendaman untuk menghilangkan karat dan kotoran.

Puncaknya dilaksanakan pada Jumat Legi melalui penyucian pusaka dengan air kembang. Malam harinya dilanjutkan doa bersama dan slametan sebagai bagian dari tradisi masyarakat Jawa.

Pada acara sakral ini, Ketua Harian Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok Kediri, R. Kushartono, menegaskan makna di balik ritual ini. Baginya jamasan bukan sekadar bersih-bersih benda tua.

"Melestarikan budaya luhur bangsa sangat penting karena budaya merupakan bagian dari jati diri bangsa," kata Kushartono.

Menurutnya, tradisi jamasan di Bulan Suro menjadi salah satu cara merawat nilai-nilai tersebut. Bahkan di antara pusaka yang dijamas tahun ini terdapat dua pusaka milik Presiden Soekarno yang tersimpan di Ndalem Pojok Kediri.

"Tradisi ini juga terbuka bagi masyarakat umum. Antusiasme warga terlihat dari jumlah pusaka yang ikut tahun ini," katanya.

Saat memimpin prosesi jamasan, Jeje merinci ada sekitar 70 pusaka yang disucikan.1"Total ada sekitar 70 pusaka dan benda-benda bersejarah lainnya yang mengikuti prosesi jamasan tahun ini. Sekitar 20 milik keluarga Ndalem Pojok, dan 50 milik masyarakat serta komunitas budaya," kata Jeje.

Menurut pengelola situs, tombak dan Keris Kiai Gadakan merupakan pusaka peninggalan Bung Karno yang diperoleh ketika beliau melakukan kunjungan ke wilayah Grobogan, Jawa Tengah.

Sejak saat itu, kedua pusaka tersebut diamanahkan dan terus dirawat di Ndalem Pojok Kediri sebagai jejak perjalanan bangsa.

Kegiatan ini juga diikuti kalangan akademisi dan generasi muda. Salah satunya Firdaus, mahasiswa Universitas Brawijaya Malang, yang datang khusus untuk belajar.

"Banyak generasi muda yang belum memahami makna jamasan. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat mengenalkan bagaimana cara merawat warisan budaya. Jangan sampai kita kehilangan budaya sendiri, sementara di sisi lain kita marah ketika budaya Indonesia diklaim oleh negara lain," kata Firdaus.

Sampai sekarang, jamasan bukan hanya menjaga kondisi fisik pusaka agar tetap awet. Lebih dari itu, ini adalah sarana merawat ingatan kolektif terhadap perjalanan sejarah bangsa.

Melalui pelestarian budaya seperti ini, diharapkan generasi muda semakin mengenal, mencintai, dan menjaga warisan leluhur. Karena dari situlah jati diri Indonesia ditempa dan dijaga agar tidak putus di tengah zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....