Sampah Menumpuk, Harapan Baru Muncul dari Energi Listrik
- 22 Sep 2026 16:50 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Tumpukan sampah yang setiap hari dihasilkan masyarakat Kota dan Kabupaten Kediri bukan hanya menjadi persoalan lingkungan
- Di balik volume yang mencapai sekitar 850 ton per hari, tersimpan peluang untuk mengubah sampah menjadi sumber energi listrik, jika dikelola melalui kerja sama regional antardaerah
RRI.CO.ID, Kediri - Tumpukan sampah yang setiap hari dihasilkan masyarakat Kota dan Kabupaten Kediri bukan hanya menjadi persoalan lingkungan. Di balik volume yang mencapai sekitar 850 ton per hari, tersimpan peluang untuk mengubah sampah menjadi sumber energi listrik, jika dikelola melalui kerja sama regional antardaerah.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Khusnul Arif mengatakan, persoalan sampah kini perlu ditangani dengan pendekatan yang lebih jauh. Ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir (TPA) dinilai tidak dapat terus menjadi satu-satunya solusi, karena volume sampah terus bertambah seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi.
"Peluang itu ada ketika daerah kemudian mengusulkan kepada provinsi untuk melakukan kerja sama regional terkait pengelolaan sampah," kata Khusnul, saat sosialisasi bersama masyarakat yang membahas infrastruktur persampahan, di Kediri, Selasa, 22 September 2026.
Menurut Khusnul, peluang kerja sama regional sebenarnya pernah dibahas pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten dan kota. Bahkan, kajian mengenai pengelolaan sampah regional sempat dilakukan dan dituangkan dalam kesepakatan tiga kepala daerah, namun tidak berlanjut karena berbagai dinamika, termasuk kemampuan fiskal daerah.
Kini, peluang tersebut dinilai masih dapat dibuka kembali. Terlebih, pemerintah pusat mendorong pengolahan sampah menjadi energi listrik di sejumlah daerah, sehingga Kota dan Kabupaten Kediri berpeluang mengkaji skema serupa. Khusnul menyebut, Kota Kediri menghasilkan sekitar 180 ton sampah per hari, sedangkan Kabupaten Kediri mencapai sekitar 670 ton. Jika digabungkan, timbulan sampah dari kedua wilayah tersebut mencapai kurang lebih 850 ton setiap harinya.
Namun, besarnya volume sampah tersebut belum otomatis membuat Kediri memenuhi seluruh persyaratan untuk masuk dalam program pengolahan sampah menjadi energi listrik. Ada standar minimum dan ketentuan teknis yang harus dipenuhi.
"Kalau kita 670, tapi 180 ini sepertinya belum memenuhi kuota untuk kerja sama yang kemudian difasilitasi pemerintah pusat," ujarnya.
Bagi Khusnul, persoalan sampah tidak cukup hanya memikirkan ke mana sampah dibuang setelah menumpuk. Masyarakat juga perlu mulai memikirkan bagaimana mengurangi sampah sejak dari rumah, agar beban TPA tidak semakin berat dari hari ke hari.
"Seiring dengan pertumbuhan masyarakat, pertumbuhan ekonomi, persoalan sampah semakin menguat. Maka harus ada antisipasi dan upaya-upaya," katanya.
Salah satu warga Kediri, Shinta, menyambut baik adanya inovasi dalam pengelolaan dan pembuangan sampah. Menurutnya, masyarakat membutuhkan sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya memindahkan sampah ke tempat lain, tetapi juga mampu mengurangi dampaknya terhadap lingkungan.
"Saya setuju kalau ada inovasi dalam pengelolaan sampah. Jadi sampah tidak hanya dibuang dan menumpuk, tetapi bisa diolah kembali dan kalau memang bisa menjadi listrik, tentu sangat bermanfaat," kata Shinta.
Menurut Shinta, inovasi tersebut juga perlu dibarengi dengan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari rumah. Dengan begitu, sampah yang masih memiliki nilai guna dapat dimanfaatkan kembali, sementara sampah yang tidak bisa digunakan dapat ditangani dengan cara yang tepat.
Sementara untuk menjadi sumber listrik, tidak semua sampah bisa langsung dimanfaatkan. Sampah harus melalui proses pemilahan dan pengolahan terlebih dahulu untuk menentukan material yang memenuhi kriteria sebagai bahan baku energi.
"Untuk diolah menjadi sumber listrik tentunya ada kriteria sampah tertentu. Jadi begitu sampai di TPA ini ada pemilahan, ada pemrosesan, mana yang bisa digunakan," katanya.
Khusnul mencontohkan, fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di Benowo, Surabaya, sebagai salah satu program yang telah berjalan di Jawa Timur. Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran apabila Kediri ingin mengembangkan skema serupa.
Meski demikian, peluang mengubah sekitar 850 ton sampah per hari menjadi energi listrik masih membutuhkan kajian lebih lanjut. Pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan pihak terkait perlu menghitung aspek volume, teknologi, pembiayaan, regulasi, hingga pola kerja sama antardaerah agar pengelolaannya benar-benar dapat berjalan.
Jika seluruh persyaratan terpenuhi, tumpukan sampah yang selama ini menjadi persoalan masyarakat Kediri berpeluang memiliki nilai baru. Langkah itu bukan sekadar berakhir di TPA, tetapi dapat diproses menjadi energi sekaligus mendorong masyarakat lebih peduli memilah dan mengurangi sampah sejak dari sumbernya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....