Dari Dapur Rumahan, Isma dan Lentera Herbal Menyalakan Semangat Warga Parang

  • 29 Mei 2026 19:10 WIB
  •  Kediri
Poin Utama
  • Desa Parang, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri sudah lama dikenal sebagai sentra empon-empon kering
  • Produk jamu Isma, sudah merambah sampai ke Sumatera, Kalimantan, sampai Papua

RRI.CO.ID, Kediri - Sore itu di Desa Parang, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri, dapur Isma Wijayanti mengepul. Bukan wajan yang berisik, tapi tampah berisi irisan temulawak dan bunga telang yang dijemur.

Wangi rempah menguar ke gang sempit. Dari tumpukan empon-empon kering khas kampungnya, pelan-pelan lahirlah 'Lentera Herbal Kediri'.

Kondisi ini sebagai upayanya bangkit dari ekonomi keluarga yang tengah melambat.

"Saya sering berpikir, enaknya usaha apa ya. Melamar kerja juga susah di kondisi seperti begini,” ujarnya pelan, pada Jumat, 29 Mei 2026.

Bahkan, dari kalimat itu, seakan terus mendorongnya bangun lebih pagi dari biasanya, dan pada bulan Mei 2025 menjadi titik balik.

Setelah beberapa hari merenung dan mengobrol panjang dengan suaminya Andik, Isma akhirnya menjatuhkan pilihan membuat jamu dan rempah.

Pilihan Isma ini, bukan tanpa alasan. Desa Parang memang sudah lama dikenal sebagai sentra empon-empon kering. Hampir tiap rumah punya tumpukan jahe, temulawak, atau kunyit yang dikeringkan.

"Warga di sini mayoritas produksi empon-empon kering. Jadi saya bikin usaha yang tidak jauh dari potensi sekitar, biar bahan bakunya gampang didapat," kata Isma sambil memilah daun insulin yang baru dipetik dari pekarangan belakang rumahnya.

Logika yang sederhana, tapi memang awal merintis usaha tidak semulus bayangan. Apalagi, semua orang di kampungnya menjual empon-empon mentah.

"Kalau saya ikut jual yang sama, akan kalah saing," katanya.

Tantangan terbesar bagi Isma, bagaimana kasih nilai tambah pada sesuatu yang sudah biasa. Dari dapur sempit itulah ide muncul. Rempah-rempah itu disulap jadi teh celup siap seduh. Praktis, modern, tapi rasanya tetap 'jamu asli'.

Andik, sang suami, yang turut membantu pengurusan desain kemasan sambil belajar dari YouTube. Mereka ingin produknya bisa masuk ke dapur anak muda urban, tanpa kehilangan jiwanya.

"Yang paling bikin pusing itu kemasan. Gimana caranya ibu-ibu mau beli, tapi tetap kelihatan tradisional," kenang Isma sambil tertawa.

Beberapa kali prototipe dibuang karena warnanya kurang pas atau tulisannya terlalu kecil. Dapur itu jadi laboratorium sekaligus ruang diskusi keluarga.

Kini, produk Isma terus berkembang. Apalagi, Lentera Herbal punya Teh Rimpang, Teh Rempah Daun Kumis Kucing, Teh Daun Insulin, Wedang Herbal, Wedang Uwuh, Teh Bunga Telang, Teh Bunga Rosella, Teh Mahkota Dewa, dan lainnya. Satu-satu diracik, dicoba, sampai dapat takaran yang pas di lidah pelanggan pertama tetangga dan saudara.

Untuk penjualan, Isma memilih jalur online sehingga tidak perlu sewa toko, cukup HP dan koneksi. Ia belajar foto produk, bikin caption, sampai balas chat pembeli tengah malam.

"Untuk pemasaran kami coba di pasar online, jangkauannya lebih luas dan biaya lebih minim. Dua toko online yang dikelola dari ruang tamu itu kini meraup omzet hingga Rp25 juta per bulan. Paket-paket Lentera Herbal tak lagi cuma berputar di Jawa Timur," kata Isma.

Sampai sekarang, produknya sudah merambah sampai ke Sumatera, Kalimantan, sampai Papua. Ada pelanggan yang cerita minum Wedang Uwuh tiap malam untuk jaga daya tahan tubuh, meskipun yang paling Isma banggakan bukan angka omzet tersebut.

Di kediamannya, Isma sempat menunjukkan ke arah dapur belakang. Di sana ada tiga ibu-ibu tetangga sedang melipat dus dan menempel stiker sambil berbincang.

"Pengemasan dan pemasaran live e-commerce kami dibantu warga sekitar," katarnya bangga.

Dapur rumahan itu pelan-pelan berubah jadi pusat kegiatan kampung. Banyaknya pesanan justru memunculkan masalah baru, yakni modal. Bahan baku harus dibeli di muka, sementara pembayaran dari pembeli datang belakangan. Di titik inilah BRI masuk sebagai 'pertolongan pertama'.

"BRI jadi pertolongan pertama, untuk urusan permodalan," kata Isma.

Ia kini tercatat sebagai nasabah KUR BRI Kediri. Dari pinjaman itu ia bisa beli bahan lebih banyak dan membayar upah warga yang bantu produksi. Nafas usahanya jadi lebih panjang.

Adi Nugroho, Branch Manager BRI BO Kediri, menyebut Isma adalah wajah UMKM yang mereka cari.

"Hingga Maret 2026, BRI BO Kediri sudah salurkan KUR Rp343 Miliar. Kami lihat potensi jamu di Kediri besar, dana dukungan kami tidak cuma dana, tapi juga pendampingan dan edukasi finansial biar usahanya berkelanjutan," kata Adi.

Dari dapur yang dulu cuma buat masak keluarga, kini Lentera Herbal nyalakan rezeki banyak orang. Isma membuktikan bermula dari rumah, seorang ibu juga bisa jadi lentera untuk kampungnya. Nama 'Lentera' yang ia pilih ternyata benar-benar jadi cahaya kecil di Desa Parang, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....