Parade Cikar di Kabupaten Kediri Hubungkan Masa Lalu dan Kekinian

  • 22 Agt 2026 18:25 WIB
  •  Kediri
Poin Utama
  • Puluhan cikar kayu berjalan beriringan ditarik sapi, di atasnya bukan hanya peternak, tapi juga anak-anak sekolah yang tertawa sambil melambaikan tangan

RRI.CO.ID, Kediri - Puluhan cikar kayu berjalan beriringan ditarik sapi. Di atasnya bukan hanya peternak, tapi juga anak-anak sekolah yang tertawa sambil melambaikan tangan.

Pemandangan itu mewarnai Parade Cikar Kabupaten Kediri, Sabtu, 22 Agustus 2026. Memasuki tahun kelima, tradisi yang dulu jadi moda transportasi warga ini kini kembali dihidupkan untuk dikenalkan ke generasi baru.

Parade dimulai dari depan Taman Totok Kerot sekitar pukul 10.00 WIB. Di tempat ini, tampak 43 cikar dengan sekitar 86 ekor sapi bergerak ke selatan, memutar di kawasan Monumen Simpang Lima Gumul, hingga finis di depan Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Kediri.

Jumlah peserta tahun ini bertambah. Tahun lalu hanya 40, kini menjadi 43 peserta dari sekitar 10 kecamatan. Kecamatan Wates dan Ngadiluwih jadi wilayah dengan peserta terbanyak.

Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri, M. Solikin yang mewakili Bupati Kediri mengatakan, parade ini bukan sekadar memeriahkan HUT ke-81 RI.

"Ini sudah kelima kali. Niat dan tujuan kegiatan ini tidak sekadar melestarikan budaya, tetapi mengingatkan bahwa kita punya memori publik tentang transportasi," kata Solikin.

Menurut Solikin, sapi juga punya nilai ekonomi besar. Kebutuhan daging dan susu masyarakat saat ini masih tinggi, sehingga Pemkab mendorong peternakan jadi potensi ekonomi warga.

Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih menyebutkan, sebelum parade semua sapi wajib periksa kesehatan. Dari 46 pendaftar, 3 tidak lolos sehingga yang ikut 43 cikar.

"Dari pendaftaran terakhir ada 46, kemudian setelah pemeriksaan ada tiga yang tidak memenuhi syarat sehingga yang ikut 43. Semua sapi kami cek kesehatannya," jelas Tutik.

Tahun ini nuansanya berbeda, sebab Pemkab sengaja melibatkan masyarakat umum. Sekitar 50 siswa SDN 1 Wonosari Pagu diajak naik cikar dan diberi edukasi pentingnya konsumsi telur, daging, dan susu.

"Temanya kali ini lebih melibatkan masyarakat umum secara langsung. Selain memperkenalkan cikar kembali, kami juga ingin menguatkan sektor peternakan di Kabupaten Kediri," kata Tutik.

Sepanjang rute, DKPP juga membagikan 2.000 butir telur rebus gratis untuk warga. Penilaian peserta tidak hanya dari performa sapi, tapi juga kreativitas cikar dan muatan lokal produk pertanian Kediri.

"Harapannya, budaya-budaya yang ada di Kabupaten Kediri terus dilestarikan dan diuri-uri, supaya generasi sekarang juga tahu kebudayaan yang lampau," katanya.

Kebahagiaan juga dirasakan Yudiono dari Desa Kunjang, Kecamatan Ngancar. Ia kembali keluar sebagai juara 1 Parade Cikar tersebut.

"Alhamdulillah sangat senang dan bahagia sekali," kata Yudiono.

Kepala Desa Kunjang itu, mengaku, telah merawat sapinya dengan vitamin, comboran dan hijauan. Cikarnya juga rutin dicat dan ditutup terpal agar awet.

Ia berharap, parade ini terus ada setiap tahun. Pihaknya sebagai perwakilan komunitas cikar yang ada di Kediri, memohon difasilitasi dan didampingi setiap tahun.

"Kalau bisa Parade Cikar terus diadakan," katanya.

Dari sorak anak-anak di atas cikar, hingga semangat Yudiono merawat tradisi. Parade Cikar membuktikan, menguri-uri budaya paling efektif saat mengajak generasi baru ikut merasakannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....