Komposter dari Galon Bekas, Inovasi Mahasiswa UB Kediri Ajak Warga Bebas Sampah

  • 24 Jul 2026 20:43 WIB
  •  Kediri
Poin Utama
  • Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) PSDKU Universitas Brawijaya (UB) Kediri Kelompok 10 menghadirkan inovasi komposter sederhana berbahan galon bekas untuk membantu masyarakat mengelola sampah organik rumah tangg

RRI.CO.ID, Kediri – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) PSDKU Universitas Brawijaya (UB) Kediri Kelompok 10 menghadirkan inovasi komposter sederhana berbahan galon bekas untuk membantu masyarakat mengelola sampah organik rumah tangga. Pada Jumat, 24 Juli 2026, melalui program ini, warga Desa Kelutan, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, diajak mengubah limbah organik menjadi kompos padat dan pupuk organik cair (POC) yang bermanfaat bagi tanaman.

"Program sosialisasi dan pelatihan tersebut digelar di Pondok Pesantren Daru Ulil Albab, Desa Kelutan, pada 22 Juli 2026," kata Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Diana Aisyah.

Diana menyebutkan, kegiatan ini menjadi salah satu upaya mahasiswa mendorong pengelolaan sampah organik secara mandiri sekaligus mengurangi volume sampah rumah tangga. Desa Kelutan, seperti banyak wilayah lainnya, menghasilkan limbah organik rumah tangga setiap hari, mulai dari sisa sayuran hingga kulit buah.

Selama ini limbah tersebut umumnya dibuang begitu saja, padahal memiliki potensi besar untuk diolah menjadi pupuk yang bernilai guna bagi pertanian maupun tanaman pekarangan. Berangkat dari kondisi tersebut, Mahasiswa KKN PSDKU UB Kediri Kelompok 10 merancang komposter sederhana dengan memanfaatkan galon bekas yang mudah ditemukan di lingkungan masyarakat.

Inovasi ini tidak hanya memanfaatkan barang yang sudah tidak terpakai, tetapi juga menghadirkan solusi praktis dalam pengelolaan limbah organik. Koordinator Desa Kelompok 10 KKN PSDKU UB Kediri, Vikri Asfa Fuadi, mengatakan, teknologi komposter tersebut sengaja dirancang sederhana agar dapat dibuat dan diterapkan sendiri oleh masyarakat.

"Limbah rumah tangga tidak hanya menjadi sampah, tetapi dapat diolah menjadi kompos padat dan pupuk organik cair sehingga dapat dimanfaatkan untuk tanaman," kata Vikri.

Dalam pelatihan tersebut, peserta memperoleh edukasi mengenai pentingnya memilah sampah organik sejak dari rumah. Mahasiswa kemudian mendampingi warga menyusun bahan kompos secara berlapis, menambahkan bioaktivator, hingga melakukan proses fermentasi di dalam komposter.

Hasil fermentasi menghasilkan dua produk sekaligus. Cairan yang mengendap di bagian bawah galon dapat dipanen melalui kran sebagai pupuk organik cair, sedangkan material padat pada bagian atas berubah menjadi kompos yang siap digunakan sebagai pupuk alami.

Penanggung jawab kegiatan, Rohmatul Iman Binti Zulaikho, menjelaskan, bahwa kompos merupakan bahan organik yang telah mengalami proses pelapukan oleh mikroorganisme, sedangkan pupuk organik cair merupakan hasil fermentasi berbagai bahan organik yang berbentuk cair.

"Penggunaan galon bekas sebagai komposter menjadi contoh sederhana penerapan prinsip ekonomi sirkular. Barang yang semula dianggap limbah dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat bagi lingkungan," kata Rohmatul Iman Binti Zulaikho.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap masyarakat Desa Kelutan semakin memahami pentingnya mengelola sampah organik secara mandiri. Selain mengurangi timbunan sampah, hasil pengolahan limbah tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesuburan tanaman dan mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.

Program pemanfaatan galon bekas sebagai komposter sederhana ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, tujuan ke-13 mengenai penanganan perubahan iklim, serta tujuan ke-15 tentang pelestarian ekosistem daratan.

Mahasiswa KKN PSDKU Universitas Brawijaya Kediri berharap inovasi tersebut dapat terus diterapkan oleh masyarakat meskipun program KKN telah berakhir. Dengan begitu, budaya mengolah sampah organik menjadi kompos dan pupuk organik cair dapat terus berkembang serta menciptakan lingkungan desa yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....