Harapan Lima Generasi di Balik Dinding Tua Jl Stasiun Kota Kediri
- 04 Agt 2026 21:13 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Ada dinding-dinding tua yang diam-diam menyimpan napas sejarah, di antara deru kereta dan hiruk pikuk Kota Kediri
- Kini, warga hanya berharap satu hal sederhana, sebelum alat berat datang, pihak terkait bisa lebih dulu membuka pintu komunikasi
RRI.CO.ID, Kediri - Ada dinding-dinding tua yang diam-diam menyimpan napas sejarah, di antara deru kereta dan hiruk pikuk Kota Kediri. Catnya mulai mengelupas, kayunya mulai lapuk. Tapi di dalamnya hidup kenangan lima generasi yang kini menggantung cemas.
Rumah-rumah kolonial di Jalan Stasiun itu berdiri sejak 1940-an. Bukan sekadar bangunan, bagi penghuninya ia adalah rumah, saksi lahir, tumbuh, hingga menua.
Kini, rencana Pemerintah Kota Kediri untuk mengalihfungsikan kawasan tersebut menjadi lahan parkir membuat waktu seakan berlari lebih cepat bagi mereka.
"Kalau bisa jangan dibongkar, ini kan cagar budaya," lirih seorang warga Kota Kediri, Kristian (58) sambil menatap atap genteng tua di atas kepalanya, Selasa, 4 Agustus 2026.
Dari cerita Kristian, sudah ada lima generasi, keluarganya tumbuh di rumah itu.
Dari kakek buyutnya yang pertama kali menempati di zaman Belanda, hingga cucu-cucunya yang kini berlarian di teras yang sama.
Kristian masih ingat sosialisasi yang datang beberapa waktu lalu dari BPPKAD dan Dinas Perdagangan.
Namun setelah itu, kabar berikutnya hanya menggantung. Apakah akan jadi food court 4 lantai, atau hanya hamparan parkir kosong, tak ada yang benar-benar menjelaskan kepada mereka.
"Yang pasti, batas waktu itu sudah disebutkan dan akhir November harus kosong. 1 Desember, kawasan itu harus steril," katanya.
Di rumah sebelah, Fredi (45) duduk di kursi kayu peninggalan ayahnya. Baginya, rumah sewa itu adalah identitas. Di dindingnya pernah ia tempelkan cerita tentang keberagaman keluarganya saat event Hari Toleransi Kota Kediri digelar.
"Keluarga kami sudah di sini dari zaman kolonial. Banyak sekali kenangannya. Kami bukan menolak kebijakan pemerintah, kami hanya butuh diajak bicara," ucap Fredi pelan.
Secara total, ada 16 kepala keluarga di sana. Ada warung kopi yang jadi tempat nongkrong masinis, ada penjahit yang sudah 30 tahun menggunting kain di teras yang sama. Jika digusur, mereka tak hanya kehilangan atap, tapi juga sumber hidup.
"Kami disuruh mengosongkan, tapi tidak ada ruang diskusi soal kelanjutan tempat usaha kami. Harusnya ada solusi," tambah penuh harap.
Dengan kejadian ini, jurnalis mencoba mengetuk pintu keadilan informasi ke Dinas PUPR Kota Kediri pada hari yang sama. Namun jawaban yang didapat masih menggantung.
"Bu Santi sedang tidak ada di tempat, sedangkan Pak Salim sedang cuti," ujar seorang petugas jaga.
Sore itu, di Jl. Stasiun, anak-anak masih bermain di antara pilar-pilar tua. Mereka belum tahu bahwa rumah yang mereka sebut istana itu sedang di ujung penentuan.
Kini, warga hanya berharap satu hal sederhana, sebelum alat berat datang, pihak terkait bisa lebih dulu membuka pintu komunikasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....